PELAYAN

Pelayan, pelayanan, melayani adalah kata-kata popular di kalangan kaum beragama, terlebih kristiani. Biasanya para pemimpin gereja juga disebut sebagai pelayan. Pelayan siapa? Entahlah, itu selalu diperdebatkan.

Di GKJ pemimpin gereja itu terdiri atas penatua atau juga disebut tua-tua, diaken, dan pendeta. Mengapa terdiri atas tiga unsur itu, alasan mendasar tidak terlalu jelas. Biasanya itu dikaitkan dengan keyakinan bahwa Kristus memiliki tiga jabatan, yaitu raja, imam dan nabi. Maka para pemimpin gereja juga terdiri atas tiga unsur untuk mencerminkan jabatan Kristus itu, yaitu raja dinampakkan pada jabatan penatua, imam diwujudkan dengan jabatan diaken, dan nabi dinyatakan dengan jabatan pendeta.

Dari antara ketiganya itu, yang sering diperlakukan lebih rendah daripada yang lain adalah diaken. Mengapa demikian? Tidak tahu. Secara prinsip perlakuan demikian itu salah. Namun dalam praktek kecenderungan demikian itu nyata. Di masa lalu, hingga sekitar tahun 1990-an, misalnya, wanita bisa dipilih dan diteguhkan sebagai majelis gereja tetapi dengan jabatan diaken, bukan penatua. Karena kecenderungan memperlakukan diaken seolah-olah lebih rendah derajad dan kualitasnya daripada penatua dan pendeta, maka ada usul agar diaken dihapuskan saja. Di gereja lain jabatan diaken memang sudah ditiadakan. Apa alasan mendasar penghapusan itu? saya tidak tahu (kula mboten retos).

Ketiga unsur jabatan itu layak dipertahankan dan bahkan juga layak diberi makna baru yang lebih fungsional. Pendeta, sebagai cermin jabatan nabi, biasanya lebih dimaknai sebagai yang mewartakan Sabda Allah. Sebagaimana para nabi yang diutus Allah untuk menegur umatnya, seperti halnya Amos, Yeremia, Hosea, dsb. Selayaknya pendeta lebih difungsikan sebagai pengamat kritis terhadap gereja. Pendeta justru wajib memiliki sikap kritis terhadap gereja, dan gereja tidak anti kritik yang disampaikan oleh pendeta, terutama pada aspek ajaran gereja. Dengan demikian gereja pun selalu diperbarui, sebagaimana prinsip reformasi "Ecclesia reformata semper reformanda est" gereja reformasi itu harus (selalu) direformasi. Lagipula pendeta layak diperankan sebagai pemimpin masyarakat, bukan hanya pemimpin umat kristiani. Oleh sebab itu, pendeta menjadi wakil gereja dalam bergaul dengan para pemimpin agama, budaya, dsb yang ada di dalam masyarakat. Penatua sebagai yang mewujudkan jabatan raja selayaknya difungsikan sebagai pihak yang kritis terhadap organisasi gereja agar gereja tidak menjadi lembaga yang kaku dan beku.  Sedangkan diaken sebagai representasi jabatan imam layak difungsikan sebagai pihak yang memperhatikan secara kritis sikap gereja terhadap kehidupan sosial-ekonomi. Keberpihakan gereja kepada kaum miskin, terpinggirkan, dsb. dan perlawanan kepada kecenderungan kapitalisme. Juga memampukan gereja agar berperan sebagai pemberdaya masyarakat, yang di dalamnya gereja merupakan bagian dari masyarakat itu. Diaken, dengan demikian justru mempunyai posisi yang sangat strategis bagi terwujudnya cita-cita masayarakat adil, makmur, sejahtera lahir dan batin.