PEKA BUKAN PEKOK PADA KEWAJIBAN DIRI SENDIRI



Peringatan dan ajakan untuk tidak korupsi sudah dilakukan sejak jaman dahulu kala, entah sejak kapan persisnya. Setidaknya di tahun 1950-an sudah ada gending (nyanyian) yang terkenal yaitu "Kuwi apa kuwi." Lirik (Jawa: cakepan) gending (lagu) itu adalah sebagai berikut:

Kuwi apa kuwi, e kembang melati (apakah itu? oh, bunga melati)
Sing tak puja puji aja dha korupsi (yang kumohon selalu jangan ada yang korupsi)
Sebab yen korupsi negarane rugi (sebab kalau ada yang korupsi, Negaranya rugi)
Piye mas piye ha ya ngona, ngono-ngono kuwi (jelasnya bagaimana to mas, yahh begitulah)

Kuwi apa kuwi, e kembange menur (apakah itu? oh, bunga menur)
Sing tak puja-puji mbok ya padha jujur (yang kumohon selalu semua berlaku jujur)
Sebab yen dha jujur negarane makmur (sebab kalau semua jujur Negaranya makmur)
Piye mas piye ha ya ngona, ngono-ngono kuwi (jelasnya bagaimana to mas, yahh begitulah)

Kuwi apa kuwi, e kembange waru (apakah itu? oh, bunga waru)
Sing tak puja-puji mbok ya dha bersatu (yang kumohon selalu semuanya bersatu)
Sebab yen bersatu negarane maju (sebab kalau semua bersatu negaranya maju)
Piye mas piye ha ya ngona, ngono-ngono kuwi (jelasnya bagaimana to mas, yahh begitulah)

Kuwi apa kuwi, e kembange turi (apakah itu? oh, bunga turi)
Sing tak puja-puji mbok ya dha memetri (yang kumohon selalu semua memelihara)
Amurih lestari kabudayan Jawi (agar lestari kebudayaan Jawa)
Piye mas piye ha ya ngona, ngono-ngono kuwi (jelasnya bagaimana to mas, yahh begitulah)

Selain peringatan dan ajakan untuk tidak korupsi, juga untuk berlaku jujur, bersatu dan memelihara budaya Jawa.  Yang cukup menarik di setiap pada (bait) gending (lagu) itu ditutup dengan pertanyaan dan jawaban tentang praktek-nyata peringatan dan ajakan itu. Yaitu dengan pertanyaan piye mas, piye? (jelasnya bagaimana to mas)?  Dan jawabnya adalah "ha ya ngona, ngono-ngono kuwi" ("yahh begitulah).
Jawaban "ha ya, ngona, ngono-ngono kuwi" itu menunjukkan bahwa sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu dijawab sebab si penanya sudah tahu jawaban atas pertanyaannya itu. Oleh sebab itu pertanyaan itu dijawab dengan anjuran agar si penanya mengasah kembali kepekaan batinnya sehingga sungguh-sungguh sadar bahwa yang sejatinya adalah ia sudah tahu tanggung jawab yang harus dilakukan, yaitu tidak korupsi, berlaku jujur, bersatu, memelihara budaya sendiri. Oleh sebab itu tidak perlu bertanya, tetapi wujudkan dalam tindakan. Lakukan secara konkret.

Orang Jawa memang mewariskan budaya peka dan sama sekali bukan pekok terhadap kewajiban diri. Orang selayaknya memiliki kepekaan batin, sehingga tidak perlu diingatkan, tidak perlu diajak tetapi sudah dengan sadar melakukan kewajiban diri, yang merupakan panggilan batin sendiri. (bersambung dengan: SASMITA)


Ki Atma