"Ndak paké Sri"

Ketiga tiba gilirannya berbicara, aku mempersilakan, "Mangga, Bu Sri..."
Belum sempat aku menyebut namanya secara lengkap, ia memotong, "Ndak paké Sri. Hartati thok!"
"O nggih, silakan bu Hartati," aku meralat.

Ia pun mulai bercerita.
Setiap Senin pagi ada persekutuan doa di gereja. Dan, seperti biasa, yg paling rajin hadir adalah para perempuan yang telah lanjut usia. Mereka memiliki sesuatu yang berharga: cerita. Memang kadang pendengar sedikit jemu karena cerita yang sama tak hanya diulang sekali dua, namun lebih. Namun, bercerita nampaknya jadi semacam terapi bagi para orang tua. Maka mendengarkan adalah cara membantu mereka. 

Pagi itu, setelah berbagi renungan singkat, aku berbagi waktu kepada mereka untuk bercerita. Seperti yang sedang kuupayakan selama ini, aku mencoba menghafal nama diri para ibu - bukan nama suami yg tersemat otomatis di belakang "Bu". Termasuk aku mempersilakan Bu Hartati bercerita.

Di akhir acara, sebelum ditutup doa, ia berseloroh, "Hari ini saya sungguh bahagia. Ada yang mengingat nama kecil saya. Selama ini di rumah, di tetangga, di gereja, orang tak pernah menyebut nama asli saya. Hari ini saya merasa menjadi diri saya sendiri, yang dihargai." Ya, setiap orang punya nama. Pun perempuan. Nama yang membuat mereka menjadi diri, tanpa embel-embel jabatan. Kartini pun pernah memilih dan meminta untuk dipanggil dengan nama sederhana itu saja, tanpa gelar kebangsaan. Nama diri adalah kesejatian yang membawa si empunya nama menuju kesejukan penerimaan. 

"Bukan berarti saya ndak menghargai (nama) suami saya, lho...." Bu Hartati melanjutkan. Bagaimanapun, seperti Kartini, ia masih perempuan Jawa. 

_argo