padayantra


namanya pak Besoet.
seorang penyiar RRI yogyakarta yang terkenal di tahun 70-80an. bahkan ketika masa kanak-kanak di Sala pun saya sudah mengenal namanya lewat siaran radio yang didengarkan ayah.
saya mengingatnya, karena darinya keluar istilah "padayantra" sebagai padanan nama sepeda. kendaraan yang akrab dengan saya sejak masa kanak-kanak hingga sekarang juga.

padayantra itu 'roda yang dikayuh kaki' [pada= kaki, yantra=roda] sebenarnya adalah nama bikinan baru. dalam masyarakat timur seperti india, indonesia, cina, kendaraan dengan nama sanskrit itu tidak dikenal. bahkan, kendaraan kayak gitu, apa pun namanya, tidak dikenal di timur.

sepeda, velocipede, jelas nama dari barat.
bukan hanya namanya, tapi konsep kendaraan yang hanya bisa dikayuh maju itu hanya mungkin bisa lahir dari masyarakat yang punya paham maju, bergerak ke muka meninggalkan yang di belakang. konsep waktu yang linier dari tahap satu meninggalkan tahap sebelumnya dan menuju ke tahap berikutnya itu berakar dari konsep waktu yang dipopulerkan oleh kepercayaan yahudi dan turunannya, yang punya anggapan bahwa dunia ini diciptakan dan akan diakhiri. 

pandangan ini cocok dengan tubuh manusia yang meletakkan sarana orientasi tubuhnya di depan: mata, hidung, telinga, mulut... semuanya mengarah ke depan, ke muka. bahkan lokasi bagian-bagian tubuh itu [wajah] pun disebut sebagai muka.

sepeda, kendaraan ini hanya mungkin muncul di masa modern. 
masa ketika orang kembali disadarkan bahwa apa yang diperbuat haruslah memperbarui apa yang sudah. pandangan yang percaya bahwa dengan demikian dunia dibawa maju, tidak berputar-putar tidak tentu. di samping itu, sepeda juga mengajarkan bahwa kita bisa terus berjalan dengannya bila tetap mengayuhnya. begitu kayuhan dihentikan, kita terjatuh.

yantra, roda -suatu temuan yang juga dikenal di masyarakat timur- hanya bisa menjadi padayantra setelah berada di tangan mereka yang berpandangan ke depan, maju, progresif.

yang paham makna alfa dan omega.

--
anto