Ora et Labora

"Ora et Labora." Kata-kata masyhur itu berasal dari pengajaran St. Benediktus. Seorang rahib pendiri monatisisme Kristiani Barat. Santo yang dikagumi karena kekuatannya dalam bermatiraga.


Ora et labora. Berdoa dan berkarya menjadi satu kesatuan dalam rangka menemukan Tuhan dalam segala. Tradisi yang kemudian hari menginspirasi St. Ignasius dari Loyola tentang pentingnya kontemplasi dalam aksi.


Berdoa dan berkarya membutuhkan sikap dasar yang benar. Yakni sikap tangan terbuka. Berdoa bukan sebagai pelarian, dan berkarya tidaklah menjadi sarana pemuasan diri.


Dengan sikap tangan terbuka, berdoa dan berkarya menemukan makna. Kita membiarkan Allah tetap Allah. Tidak hanya di dalam doa, tetapi juga di dalam karya. Selain itu, keduanya tetaplah satu kesatuan yang utuh. Tidak ada kemungkinan untuk memisahkan keduanya.


Bagaimanapun, doa tanpa karya tidak lain hanyalah bermalas-malasan yang murahan saja. "Tuhan tolonglah, hingga kami tak perlu berbuat sesuatu." Sebaliknya, karya tanpa doa, tidak lain merupakan usaha mencari kesenangan semau-maunya. Tanpa nilai, dan pasti kehilangan makna.


Itulah mengapa, St. Ignasius berkata tentang pentingnya mencari Tuhan dalam segala. Baik melalui doa maupun karya. Bahkan supaya tidak kehilangan kewaspadaan diperlukanlah matiraga. Ya, kontemplasi dalam aksi pada akhirnya memang menuntut matiraga sebagai syarat sekaligus buahnya.


Dengan begitu orang tidak gampang tertipu. Menganggap yang palsu sebagai asli. Bagaimanapun juga, kontemplasi dalam aksi selalu menuntut kejujuran diri, demi hidup menemukan makna yang sejati. |seti