Nasi Goreng




"Timbang dibuwang, eman-eman..."

Dari sinilah ide munculnya nasi goreng. Nasi sisa, dari pada menjamur dan dibuang, akhirnya diolah kembali menjadi nasi goreng. Bahasa kekiniannya adalah recycle, daur ulang. Jadi nasi goreng bukanlah dari bahan yang segar, tetapi dari bahan yang hampir layu (wayu).

Saat tinggal di asrama mahasiswa, sudah hampir dipastikan ketika sisa nasi cukup banyak, maka menu esok hari adalah nasi goreng! Untungnya juru masak asrama cukup lihai dalam mengolah nasi sisa tersebut. Sehingga meskipun itu adalah sisa, tetapi ketika diolah kembali memiliki cita rasa yang tak kalah dengan sajian dari bahan yang segar.

Apa yang dilakukan Yesus pun bukankah demikian? Mereka yang terbuang justru diajak untuk berpelayanan. Mereka yang dianggap najis oleh masyarakat malah dirangkul dan dihargai. Senada dengan mengolah nasi goreng, dimana nasi yang hampir wayu, tidak dibuang tanpa guna, tetapi diolah kembali.

Betapa indahnya kehidupan bersama ini ketika mereka yang selama ini tersisih dan tersingkir diberikan apresiasi, diberikan tempat untuk dapat bertumbuh bersama-sama merasakan anugerah Allah. Selamat menggoreng nasi yang hampir wayu, timbang dibuwang eman-eman....  (dpp)