Nada




Setelah bergumul dengan ritme, saya melanjutkannya dengan nada.

Tinggi rendahnya suara yang bergantung dari banyaknya getaran sumber bunyi, itulah nada. Banyak yang langsung berpikir, nada itu pasti kaitannya dengan musik. Nggak juga! Nada itu ya alunan suara itu sendiri. Suara burung berkicau, suara laju kereta api, suara meja digeser, suara kentut... semua suara memiliki nada.

Dalam dunia musik, nada itu terpenjara dalam sekat-sekat yang membelenggu. Do (di) re (ri) mi fa (fi) sol (sel) la (li) si do.... Ya Cuma itu.... Gak ada yang lain. Begitu miskin dengan keterbatasan frekuensi yang telah disepakati. Padahal antara nada do dengan nada di, itu sebenarnya ada banyak sekali nada yang dianggap tidak ada. Ketika ada suara yang tidak sesuai dengan ketetapan frekuensi, kemudian dianggap fals... blero...

Ya begitulah manusia yang sukanya membatas-batasi, mengatur-atur, menjajah, dan memisahkan ini benar itu salah. Kalau berada di luar aturan, kemudian dianggap salah, fals, blero.... Padahal suara alam itu begitu sempurna, lho... Coba saja cari notasi kicauan burung, tetesan air, kentut... pasti nggak bakal ketemu. Kenapa? Lha karena adanya belenggu yang menyekati dan menyakiti tadi.

Kenapa dengan mendengar suara alam kita bisa merasa lebih tenang? Karena di sana ada kebebasan nada tanpa ada aturan, tanpa ada batasan, tanpa ada partitur, tanpa ada dirijen. Suara air terjun menderu begitu saja berpadu dengan hembusan angin, diseling kicau burung dan dengung sayap kumbang. Mereka bebas bersuara, bebas berpadu. Mereka merobohkan tembok-tembok pemisah nada yang diciptakan manusia. Kebebasan itulah yang kemudian membebaskan kita (sejenak) dari belenggu kehidupan yang menyekati dan kadang menyakiti. (dpp)