Mengagumi Bumi


Juru Mazmur pernah berujar, "jika aku melihat langit buatan tangan-Mu... siapakah manusia...?" Ungkapan tersebut merupakan ungkapan kekaguman. Bahwa di tengah agungnya semesta, kita sebagai manusia, adalah makhluk yang kecil. Betapapun kecil, manusia itu punya banyak kelebihan serta keuntungan. Termasuk dalam rangka mengelola semesta. Jagad gedhe

Di zaman modern ini, ada sekian banyak manusia yg kehilangan kekaguman akan semesta. Oleh karena itu alam tidak lagi diagungkan, dihargai. Alam justru menjadi sasaran amuk nafsu. Semakin sedikit masyarakat yg menghargai alam seperti zaman dahulu ketika mitologi masih menjadi "pelindung" alam, baik itu gunung, laut, sungai, batu, sumber air, pepohonan, dll. Dulu, seisi alam dihormati. Dihayati sebagai bagian dari hidup manusia. Jagad cilik

Kini, manusia makin abai terhadap akam. Maka merusak alam tak lagi saru, tak lagi pamali. Karena anggapan bahwa yg drusak sesuatu yg bukan bagian dari diri manusia itu. Krisis narasi dan mitologi membuat rasio manusia didominasi pragmatisme dan motif ekonomi. Bumi yg tak bersalah menjadi korban. 

Lalu bagaimana? Barangkali kita perlu memelihara kekaguman kita atas bumi. Manusia, kita, yg jumlahnya milyaran ini adalah penghuni bumi. Bumi yg kecil itu hanyalah satu di antara sekian penghuni tatasurya. Tatasurya kita hanyalah seuprit di antara sekian banyak konstelasi benda-benda langit yg ada di Galaksi Bima Sakti. Demikian seterusnya ada sekian banyak galaksi yg tak terhitung. Itu pun baru di semesta yg berhasil diobservasi. Artinya, kita ini hanyalah makhluk kecil di tengah semesta yg tak terhingga. Kita, penghuni bumi adalah bagian tak terpisahkan dari semesta. Rumah kita. Bukankah itu mengagumkan?"Jika aku melihat langit buatan tangan-Mu, siapakah manusia?" 

Selamat hari bumi.

_argo