MEMBELI KEBAHAGIAAN

courtesy of satuharapan.com

Gimana sih, rasanya menang lotre bernilai milyaran rupiah? Seberapa bahagia? Aku sih belum pernah.

Michael Norton, seorang profesor di Harvard Bussiness School pernah mewawancarai para pemenang lotre, menanyakan perihal seberapa bahagiakah mereka. Juga untuk apa uang itu digunakan. Hasilnya mengejutkan: sensasi kebahagiaan akibat menang lotre itu hanya sebentar. Mengapa? Salah satunya adalah karena uang itu dihabiskan hanya untuk kesenangan pribadi. Dari sekian banyak responden yg diwawancarai, ada yg dipake beli pulau, beli kapal pesiar, beli rumah mewah, beli kendaraan mewah, berlibur keliling Eropa, dsb. Begitu sensasinya habis, selesai pula hingar kebahagiaan.

Dalam eksperimen lainnya, Norton membagi mahasiswanya dalam dua kelompok. Kepada anggota kelompok 1 ia memberikan sejumlah uang, dengan perintah: "Silakan belanjakan uang ini untuk kesenanganmu sendiri. Untuk membeli apapun yang kauinginkan." Ada yang membeli es krim. Ada yang membeli baju. Ada yang membeli buku, dst. Semuanya untuk dinikmati sendiri. Kepada anggota kelompok 2 ia memberikan sejumlah uang, dengan perintah: "Silakan belanjakan uang ini, untuk membelikan sesuatu bagi orang lain." Ada yg membelikan orang tuanya baju. Ada yg membelikan adiknya makanan. Ada yg membelikan kekasihnya kado, dst. Uang dibelanjakan untuk dinikmati orang lain.

Selepas belanja, kedua kelompok kembali dikumpulkan untuk diwawancara, mengenai seberapa bahagia mereka. Mengejutkannya adalah, anggota kelompok 1 memang bahagia. Namun bahagia yang hanya sesaat. Sedangkan anggota kelompok 2 lebih bahagia. Bahagia yang tahan lama. Dari situ Norton menyimpulkan bahwa uang memang bisa membeli kebahagiaan, asal uang itu digunakan untuk sesuatu yg bermanfaat bagi orang lain. Tidak hanya dihabiskan untuk diri sendiri.

Kebahagiaan manusia didapat ketika hidupnya bermakna. Makna hidup itu didapat ketika keberadaan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya orang-orang terdekat. Jika zaman hedonis sekarang ini mengajari manusia untuk mencari kebahagiaan/kesenangan dengan memenuhi keinginan pribadi, barangkali riset Norton perlu dipertimbangkan oleh siapapun yang ingin memiliki kebahagiaan lebih lestari. Ternyata, bukan ketika keinginan diri terpenuhi, namun ketika ada ruang untuk berbagi.

Kebahagiaan memang bisa dibeli. Dengan berbagi.
Bukankah kita ini memang makhluk yang ditakdirkan untuk berbagi?

_argo