MAMA GA BOLEH NANGIS !

Seorang ibu menatap kosong. Seseorang yang ia kasihi baru saja berpulang ke rumah Tuhan. 
Beliau sendiri sesungguhnya baru melewati masa-masa kritis, karena sakit-penyakit yang dapat dikatakan cukup berat. Kabar kepergian itu membuatnya semakin terpukul dan menderita.

Sang ibu menatap saya dengan tatapan amat sedih.
Kami belum saling mengenal satu sama lain. 
Namun, tatapan sedih ibu ini membuat saya menggenggam tangannya lebih lama dan lebih erat. Beliau mulai menangis, tertahan, tapi tak kuasa pula untuk dibendung. Saya terdiam. 
Dengan tetap menggenggam tangannya, saya mengusap punggung sang ibu, 
mencoba memberikan sedikit kelegaan dengan sentuhan. Tanpa suara. 
Hanya anggukan kecil, tanda bahwa saya mengerti apa yang beliau katakan dan rasakan.




Lalu, satu kalimat meluncur dari putrinya yang berdiri tak jauh, 
“Mama ga boleh sedih, Ma! Ga boleh nangis! Om sudah sama Tuhan.” 
Saya tahu bahwa putri sang ibu bermaksud menghibur. 
Namun, kalimat itu sendiri menghujam hati saya. 
Bukankah perasaan bukan sesuatu yang bisa dibohongi, dinafikan keberadaannya. 
Sedih ya sedih… Duka ya duka… 
Saat ini sedang sedih, apa mau dikata. 
Bukan berarti kita tidak percaya bahwa ia yang kita kasihi telah bahagia…


Sang ibu menahan diri, mengusap air matanya, dan menarik nafas panjang. 
Beliau menatap saya kembali, memaksakan senyum, tapi tak mampu. 
Air matanya turun tanpa isak. Dalam diam dan genggam, saya katakan padanya, 
“Tak mengapa, Bu…  menangislah ketika ingin menangis… 
Jangan tertawa karena terpaksa. Ada waktunya, nanti,,, kita tertawa lagi…”