lisan dan tulisan



https://www.washingtonpost.com
mengajak orang agar rajin dolan ke perpustakaan itu tidak mudah. sudah lama kita kerjakan kampanye agar orang gemar membaca, tapi posisi negara kita dalam jenjang masyarakat yang melek aksara itu nomor dua terbawah sedunia.

https://www.washingtonpost.com/

belum sempat kita memperbaiki peringkat melek aksara, datanglah teknologi informasi yang gak perlu lama-lama menikmati susunan indah kata dan kalimat. cukup klik kata-kata yang berpautan (linked) maka kita diajak berselancar ke mana-mana di dunia maya yang bercabang-cabang mirip jejaring laba-laba.

bila membaca buku membutuhkan pemusatan perhatian, bahkan ada yang bilang bahwa membaca itu butuh keberanian untuk menyendiri, maka di dunia jejaring tadi perhatian tidak diajak untuk terpusat, sebaliknya disebar.

bila jejaring laba-laba mempunyai pusat, jejaring informasi manusia tadi tidak. bila jejaring laba-laba diukur luasnya menurut kemampuan penguasaannya. kita bisa liar kemana-mana.
dengan demikian, kita memang tidak kemana-mana. tradisi lisan yang bisa ngobrolin segala hal sampek kemana-mana dilestarikan, difasilitasi oleh teknologi komunikasi yang kita konsumsi tapi belum kita kuasai.

nasihat seorang penulis: ketika mulai menulis, matikan hape dan cabut kabel modem! menulis dan membaca itu butuh keberanian untuk menyendiri.
kartini dalam dunia isolasinya membuktikan itu!
--
anto