Lawangsih




Lawangsih adalah Goa Maria di perbukitan Menoreh, daerah Kulonprogo. Lawang berarti pintu atau gapura. Sih sendiri berarti kasih ilahi, berkat atau rahmat. Jadilah, lawangsih menjadi nama yang indah. Seindah patung Bunda Maria yang ditahtakan di sana.


Nama Lawangsih memang diperuntukkan bagi sosok teladan iman itu. Bunda Maria. Tidaklah heran, karena sosok Maria memang mendapat kedudukan istimewa menurut iman Katholik. Hal ini agak berbeda dengan pandangan orang Protestan terhadap wanita bersahaja dari desa Nazaret ini.


Sekalipun begitu, pengunjung Goa Maria Lawangsih tidak melulu orang-orang Katholik. Kala datang ke sana tidak perlu tanda pengenal identitas agama. Tiada pula berjumpa dengan tulisan "Khusus Kawasan Berdoa Orang Katholik." Sungguh tak ada, tulisan bernada mengusir semacam itu. Sebagai tempat doa, lawangsih benar-benar seperti namanya. Gapura rahmat, silahkan datang dan masuk ke dalamnya.


Saya seorang protestan juga pernah ke sana. Bahkan sampai menginap. Masuk melalui pintu gerbang kasih Allah dengan berdoa. Merasai keheningan dan kesunyian pada suatu malam. Neng, ning, nung.


Dan, pada 7 Agustus 2011 malam, beberapa tahun sudah berlalu, kisah unik seputar Lawangsih kudengar. Ternyata, dulunya adalah Goa Lawa, karena banyak lawa (kelelawar) di situ. Yang unik pada giliran berikutnya adalah nama lawangsih yang tetap mengakar pada sejarah awal goa tersebut. Eksistensi goa lawa tetap ada lewat nama lawa(ng)sih yang tertera. Sungguh kecerdasan khas Jawa yang sulit dicari tandhingannya.


Benarlah kata-kata C.S.Song bahwa dalam nama itu hidup sebuah sejarah, dan dalam nama itu masa lampau, masa kini dan masa depan berjumpa dan bersatu. Lewat nama lawangsih, rupanya ada kesadaran mendalam tentang arti sebuah nama. Nama lawangsih bukanlah basa-basi, karena di dalam nama itu ada makna mendalam, ada teologi yang dibangun dengan pondasi sangat kuat.


Lawangsih adalah contoh teologi doa yang dibangun lewat nama. Kata Song lagi, "Teologi yang kuat telah dibangun di sekitar masalah pemberian nama... Sebuah nama bukanlah konsep kosong. Ia adalah sebuah substantif, yang tentu ada hubungannya dengan sebuah hakikat."


Ah, andaikata kemajuan media informasi dan komunikasi menjelmakan teologi lawangsih ini. Memayu éndahing jagad pasrawungan tentu bukan unén-unén kosong. Ketika semua orang sadar media, keluhuran ungkapan tersebut pasti mewujud dalam tindak dan kata berahmat. Sadar media, jadi perantara bagi bekerjanya rahmat Allah untuk semesta raya. Media, sejatinya adalah doa, supaya semua makhluk berbahagia. Dan bagi saya, lawangsih, adalah pintu menuju kesadaran itu. |set




kakintun kinanthi sembah bekti dumugèng megatruh