Kisah baju Hancinco hitam



Sekarang sudah jarang ada orang yang memakai baju hancinco hitam, kecuali warga Sedulur Sikep (Samin). Baju hancinco itu mirip baju koko tetapi tanpa kerah. Dahulu orang-orang desa memakai baju model demikian itu sebagai baju kehormatan (kebesaran), sedangkan setiap hari mereka tanpa baju (ngliga) atau paling-paling mengenakan kaos oblong. Karena sudah jarang orang mengenakan pakaian demikian itu sehingga orang yang mengenakannya nampak seolah-olah aneh, dan menimbulkan dugaan berbagai macam.

Suatu ketika ada seorang yang memakai baju hancinco dengan celana longgar hitam, sebagaimana yang dahulu biasa dipakai orang-orang desa, lengkap dengan ikat kepala udaran naik bis dari Solo menuju Purwodadi. Ketika kondektur mengulurkan tangan untuk meminta pembayaran harga tiket (biaya perjalanan) ia mengulurkan uang sejumlah yang biasanya untuk membayar biaya perjalanan Solo-Purwodadi. Kondektur itu bertanya “mandhap Kemukus mbah?” Ditanyai begitu ia agak kaget tetapi segera disadari bahwa mungkin karena penampilannya yang serba hitam (baju, celana hitam dengan ikat kepala wulung) kondektur mengira ia dukun yang akan pergi ke gunung Kemukus.

(gunung Kemukus adalah tempat ritual ngalap berkah dengan jalan melakukan seks bebas dengan bukan isteri/suaminya).

Di lain kesempatan ia mengunjungi sesorang yang sedang dirawat di rumah sakit. Ada seorang anak balita yang juga dirawat sebab sakit dan sedang digendong oleh pengasuhnya, balita itu menangis cukup keras sambil meronta-ronta. Nenek, kakek demikian juga yang lain berusaha membujuk balita itu agar berhenti menangis, tetapi tetap saja balita itu menangis keras sambil meronta-ronta. Ketika si dia yang mengenakan baju hancinco hitam dengan celana hitam dan ikat kepala wulung itu lewat, pengasuh itu membujuk balita itu dengan berkata “wis cup, cup, sayanggggg, mbah nyuwun suwuk, mbahhhh, disuwuk ben ndang mantun, mbahhh.” Ia berhenti sebentar memegang kepala balita itu sambil berkata “wis ndang mari ya” dan lahbadalah balita itu meronta lebih keras dan tangisnya membahana. wehhh