kerokan



Ketika tubuh merasa gemreges karena masuk angin, orang Jawa memiliki cara yang ampuh untuk mengatasinya. Kerokan. Jaman dahulu sebelum minyak kayu putih menjadi populer, kerokan biasa menggunakan minyak jelantah dan brambang yang digosokkan ke bagian punggung dengan menggunakan koin hingga tubuh memerah. Dengan teknik yang sama, saat ini kerokan masih sering dilakukan dengan menggunakan minyak kayu putih atau balsam. Konon kerokan ini berasal dari tanah Tiongkok yang merupakan dasar dari teknik akupuntur. Bukan hanya membuang angin dengan menggosok badan dan menimbulkan kehangatan, kerokan sebenarnya memperlebar pembuluh darah yang menyempit karena suhu yang dingin sehingga darah kembali mengalir lancar di tubuh kita.

Kemanjuran kerokan, sebenarnya bukan hanya terletak kepada tekniknya saja tetapi juga adanya kehangatan relasi yang terjadi di tengah keluarga. Kerokan tidaklah mungkin dilakukan seorang diri, karena sulitnya menjangkau bagian keseluruhan punggung. Biasanya kerokan dilakukan antar anggota keluarga. Ibu kepada anak atau sebaliknya dan suami kepada istri atau sebaliknya. Inilah salah satu kunci kemanjuran kerokan, yakni kasih sayang keluarga. Tangan seorang ibu yang dengan tekun menggosokkan koin di atas punggung putra yang dikasihinya bisa dimaknai sebagai transfer cinta kasih dari ibu kepada si anak. Ibu akan dengan sabar menyesuaikan keras dan lembutnya tekanan koin yang digosokkan di punggung si anak. Demikianlah betapa kerokan adalah sebuah kekayaan budaya yang pantas dipertahankan. Kerokan adalah simbol cinta kasih yang terwujud di tengah-tengah keluarga. Meriang? Mangga kerokan...  (dpp)