Kejenakaan Ilahi


Adakah unsur jenaka dalam pribadi Hyang Ilahi? Bisakah imajinasi manusia menggambarkan sosok Ilahi yang suka canda tawa?


Sampai di sini jangan dulu terlalu menyanjung Panji, Pakdhe Indro, Cak Lontong, Raditya Dika, Dodit, Cemen, ... sebagai komedian yang mampu membuat orang terpingkal hingga terjungkal dari hal-hal lumrah. Apalagi memuji-muji komedian hingga melupakan Tuhan. Kiranya eksistensi Tuhan Allah sebagai penggagas dan penganugerah komedi perlu ditengok kembali.


Bila ditanya, siapa yang bisa membuat Abram hingga umurnya sembilan puluh sembilan tahun baru bisa tertawa? Tidak lain adalah Tuhan Allah. Tidak ada catatan yang menerangkan bahwa sebelumnya Abram tertawa dalam relasi dengan manusia lainnya. Dapat dibayangkan betapa pada zaman dahulu kala hidup begitu seriusnya. Hingga akhirnya Tuhan Allah merasa iba hingga hana ide membuat Abram bisa tertawa.


Kisahnya bermula ketika Tuhan meminta Abram memanggil istrinya dengan nama baru. Bukan lagi Sarai tetapi Sara. Sebutan baru ini mengundang berkat.
"... Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." (Kej 17:16).


Menariknya, Abram justru tertawa dengan sopan sekali. Tertawa sambil tertunduk dan bukan terpingkal-pingkal. Coba dibayangkan, menerima berkat sambil tertawa dengan sopan!


Konon, bisa tertawa dalam batas kesadaran itu menyehatkan jiwa. Bisa tertawa dalam level demikian berarti berkat juga. Menariknya, Abram tertawa antara sadar dan tidak. Ia sadar akan usia yang sudah tua sekaligus tidak menyadari akan kemahakuasaan Tuhan Allah. Dalam kasus ini, Tuhan Allah memang genius dalam memerangkap Abram dalam logikanya sendiri hingga bisa tertawa.


Ternyata, tertawa yang semula bersifat ilahi, hanya menjadi hak Tuhan, sekarang dianugerahkan kepada manusia. Hanya saja harus menunggu Abram berusia sembilan puluh sembilan tahun.


Pada kisah selanjutnya, tertawa pun mendapat pengakuan Tuhan sebagai hal yang manusiawi. Maka Sara pun disarankan untuk tertawa secara terbuka, tidak perlu takut dan menyangkal. (lih. Kej 18:15). Toh kejenakaan Ilahi telah menjadi manusiawi.


Maka, jangan takut tertawa, ketika itu dalam batas kesadaran. Sekaligus, mari kita promosikan Abram sebagai bapak komedi bangsa-bangsa, sang pencetus tertawa sopan. |seti