Keindahan Rasio Komunikasi


"semua bahan itu diajak berpartisipasi dalam perjumpaan mistis bumi-langit. di dalam gedung gereja ini, segala bahan lokal dinaikkan statusnya menjadi rekan umat dalam mengalami perjumpaan mistis tadi."
~sang maha~

Ketika meminta istri tercinta membaca postingan sang maha -itu lho Pak Mahatmanto, pengajar sejarah arsitektur di UKDW- bertajuk "tenda perjumpaan" ternyata kalimat yang menyita perhatiannya adalah sama. Penjelasan bahwa bahan lokal sekitar Gereja Puh Sarang menemukan status baru, menjadi sesama manusia untuk mengalami perjumpaan mistis. Sebuah perjumpaan yang menghantar hati mengalami keterpesonaan sekaligus kegentaran tak terkira pada Yang Ilahi.

Sejurus kemudian, kami pun berdiskusi soal keindahan rasio komunikasi. Sebuah konsep dari Habermas yang hari Senin kemarin, 18 April 2016, diurai oleh Romo Adrianus Sunarko di ruang kuliah STF Driyarkara.

Logika komunikasi berbeda dengan rasio instrumental. Yang terakhir ini semua hal dianggap sebagai sekedar alat untuk memuaskan ego manusia. Imbasnya, orang yang merasa punya kuasa dan modal bisa semau-maunya memperlakukan manusia dan alam sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan dan mengeruk keuntungan. Terjadinya penjajahan dan perendahan martabat manusia berakar dari pemujaan pada rasio instrumental ini.

Rasio komunikasi berbeda. Dalam rasio ini sesama dan alam adalah kita yang sama-sama mendapatkan kodratnya sebagai ciptaan Tuhan. Martabat alam semesta mendapatkan pengakuan dan martabat manusia menjadi dasar relasi. Melalui rasio komunikasi pula, manusia tetap menyadari bahwa Yang Ilahi terus mengomunikasikan eksistensi-Nya yang tiada batas di tengah-tengah alam ciptaan. 

Kami akhirnya menyepakati, bahwa manusia sekuler tetap membutuhkan "tenda perjumpaan". Tenda yang mempertemukan ciptaan dengan Sang Pencipta dalam ruang dan waktu yang kudus. Dan, dalam tenda perjumpaan itu, keindahan rasio komunikasi sungguh dirayakan dengan segala makhluk. Baik yang kelihatan maupun yang serba tidak nampak.

Berkat tenda perjumpaan, lahirlah kerinduan bersama. Menyusuri perjalanan dari Yogyakarta dengan motor sport tua dua langkah menuju Gereja Puh Sarang, Kediri, tempat tenda perjumpaan itu didirikan. Ingin sekali larut dalam narasi sang maha:

"... masuk menyentuh air, melepas alas kaki, ndheprok di lantai batu, menatap altar batu bata berpahatkan kisah-kisah suci, mendongak ke atas ke cahaya ilahi yang menerangi temaramnya 'tenda' ini."

Semoga tidak perlu menunggu 10 tahun lagi, seperti halnya sang maha merealisasi wasiat Rm. Dick Hartoko. Maka yang kami minta pada sang maha hanya satu. Doakanlah kami sang maha, supaya kami bisa tinggal bersama dalam "tenda perjumpaan". |seti