Keberanian Kartini


"Bukankah kegelapan ini justru akan membuat cahaya itu tampak lebih terang?"
~Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 13-8-1900~

Akhirnya ketemu juga... Sekalipun malam telah larut. 

Ya, buku berjudul Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M.Abendanon-Mandri dan suaminya, sejak tadi pagi memang kucari-cari. Terlebih lagi setelah sang maha menuliskan kata-kata Kartini. Ingin sekali membaca lagi surat-surat Kartini, terutama yang sudah aku tandai. 

Buku yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno dari judul asli Kartini: Brieven aan mevrouw R.M. Abendanon-Mandri en haar echtgenoot met andere documenten ini ternyata lebih lengkap dari buku kondang Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane dari judul asli Door Duisternis Tot Licht (DDTL). Judul yang diberikan oleh J.H.Abendanon sang penyunting yang agaknya sangat dipengaruhi oleh kekuatan makna surat Kartini yang pertama.

DDTL adalah buku yang berisi surat-surat Kartini juga. Hanya saja banyak suntingan yang menghilangkan konteks khusus yang menjadi suasana batin Kartini. Inilah yang coba dihindari oleh Sulastin Sutrisno ketika menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini yang ditulis bersama adik-adiknya serta ayah dan suaminya untuk Ny. R.M. Abendanon dan suami.

Buku setebal 603 halaman ini mengundang pembaca untuk secara bebas menafsirkan sendiri tentang sosok Kartini. Senyatanya, Kartini adalah seorang pemberani.

Keberanian Kartini yang tak terbantahkan adalah dalam menulis surat. Surat memiliki keunggulan sebagai wahana untuk menuangkan cita dan rasa buah pemikiran sekaligus kegelisahan jiwanya dengan cara yang sangat akrab. Sekalipun untuk itu memerlukan perjuangan menyendiri dalam sepi. 

Sampai-sampai Sulastin Sutrisno sendiri perlu berkata-kata begini ketika mengantar terbitan surat-surat Kartini ini. "Gagasan dan pikiran-pikiran luhur mengenai bangsanya yang telah dituangkan hampir selalu sampai larut malam yang hening dan tenang..." 

Askese intelektual Kartini ini ternyata mendatangkan mukjizat besar bagi bangsa ini. Buah manisnya telah dicicipi para perempuan negri ini. Satu hal yang tak boleh dilupa, mukjizat itu lahir dari banyak membaca dan menulis. 

Dari membaca, Kartini bertemu dengan kata-kata Wertheim yang menggelorakan semangat pantang menyerah. "Perlawanan itu menyenangkan, sebab memacu ketabahan; pengingkaran bagus sekali sebab menumbuhkan pengakuan dalam hidup; penolakan memberi kesukaan sebab menumbuhkan harga diri menjadi pernyataan berani dan kesadaran akan harga diri!"

Dengan menulis, Kartini pun menemukan panggilan jiwanya yang mengalami peneguhan. Dan inilah kata-kata yang meneguhkanya: "Lebih baik sepanjang hidup penuh perjuangan daripada hidup tanpa cita-cita!" (J. de Bosch Kemper). Dan, sepanjang hidupnya, Kartini terus menghidupi cita-citanya dengan tanpa lelah berjuang. Surat-suratnya yang beratus-ratus halaman itu sungguh bicara tentang perjuangannya. |seti