Kata Mbah Sadiman: “Biasa saja..."



Kata “biasa saja” yang meluncur tegas dari mulut Mbah Sadiman di acara Kick Andy yang tayang  Jumat, 1 April 2016 di MetroTV bukan kata biasa. Kata tersebut memiliki arti magis (lebih). Tahu kenapa?

Andy F. Noya sang pembawa acara bertanya, “Bagaimana perasaan Mbah menerima anugerah Kick Andy Heroes?”

“Yah, setengah-setengah.”

“Maksudnya apa Mbah? Kok setengah-setengah?” Tidak hanya Kick Andy yang bingung, semua pemirsa di studio pun harus rela untuk melongo beberapa saat.

“Setengah senang. Setengah tidak.” Tiba giliran Andy yang geleng-geleng. “Mbah, maksudnya yang setengah tidak itu bagaimana?”

“Ya, biasa saja…” Hah, menerima hadiah, mendapat penghargaan pahlawan lingkungan, biasa saja perasaannya? Jadilah, kata “biasa saja” sungguh menjadi penuh makna, ketika keluar dari mulut penuh hikmat, Mbah Sadiman.

Mbah Sadiman adalah orang Wonogiri. Tepatnya dari Desa nDali, Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah. Baru sadar, ketika begitu semangat menuliskan sosok Mbah Sadiman karena saya dari Wonogiri juga. Klunggen, Slogohimo, Wonogiri. Kecamatan Slogohimo berbatasan dengan Kecamatan Bulukerto. Roh primordialisme kurelakan merasuki ketika menuliskan sosok Mbah Sadiman, sang pahlawan lingkungan.

Coba bayangkan. Seorang diri menanam pohon tanpa lelah selama 19 tahun di lahan seluas 100 hektar. Rasanya decak kagum saja tidak cukup untuk menghargai sang pahlawan ini. Wilayah di sekitaran Gunung Nggendol seperti: Gentung-gentung, Pringgokusuma, Pancur, Guwarsi, … menerima jejak kaki Mbah Sadiman. Tempat-tempat yang semula gundul itu menerima kedalaman cinta Mbah Sadiman ketika menanam pohon untuk penghijauan.

Tidak kurang dari 4000 tanaman dengan telaten ditanam oleh tangan yang sudah berkeriput itu. Niat baik, tindakan terpuji bukan berarti kalis dari tantangan. Kata Mbah Sadiman, ada orang yang ngenter (jengkel sekali) yang mencabuti, ada orang benci yang mecoki (membabat).

“Bagaimana sikap Mbah Sadiman terhadap orang-orang itu?”

“Diam saja”, kata Mbah Sadiman. “Lha wong cita-cita saya itu sabar dan eklas.” Sontak, seluruh permirsa pun bertepuk tangan. “Memang luar biasa orang ini”, gumanku. Apalagi ketika mendengar kelanjutan kisah beliau. “Ketika dipecoki orang, dibubut, ya saya tanami lagi.” Benar-benar tanpa beban. Begitu jelas, bila Mbah Sadiman sudah menemukan paran bahkan takdir hidupnya. Membaktikan diri untuk kelestarian lingkungan.

Darimanakah Mbah Sadiman mendapatkan bibit tanaman untuk hutan seluas 100 hektar itu? Ternyata bibit pohon ringin, ipik dan bulu itu merupakan hasil dari jualan rumput dan bibit cengkih. Bahkan demi bibit-bibit itu, kambing peliharaannya pun dijual ke pasar!

Sejak tahun 1996, Mbah Sadiman mulai menanam. Beliau begitu prihatin sehabis hutan kebakaran yang menyebabkan gundul. Akibatnya pada musim hujan terjadi banjir besar dan longsor. Ketika kemarau masyarakat mengalami paceklik gedhe, banyak penyakit seperti beri-beri, cacar, dan ureng-ureng. Masyarakat benar-benar menderita.

Berkat kebaktian istimewa Mbah Sadiman selama 19 tahun untuk Ibu Pertiwi, kini masyarakat sekitar Gunung Nggendol menerima berkah luar biasa. Air suci dari payudara Dewi Tara terus mengalir dengan bening, menghidupi sebagian besar warga Bulukerto. Mereka yang semula ngenter dan benci tak bisa menolak aliran tirta wening yang memberi hidup.



Terima kasih Mbah Sadiman, untuk jalan bhakti yang Panjenengan susuri, demi alam ini lestari. Sekalipun Panjenengan sampai lali (lupa) akan memberi kata sambutan pada malam penganugerahan, tetapi kami tidak ingin lupa pada buah dan berkat kebaikan Panjenengan. Ijinkan, tembang yang Panjenengan dendangkan kutuliskan, sekalipun tidak keseluruhan:

“Kula mbudidaya korban tenaga
korban bandha
labuh Negara tanpa rasa
Malah ana sing nggoda
Wong sing seneng lan sing ngenter
padha ngrasakne banyune
Nyalur neng omahe dhewe-dhewe…”





|seti