kacamata


KACAMATA

Kacamata adalah alat bantu penglihatan. Ada kacamata yang dipakai untuk mempertajam penglihatan sehingga si pemakai dapat melihat dengan jelas. Apa pun yang dilihatnya. Ada kacamata untuk menghalangi penglihatan, yaitu kacamatan yang warna kacanya gelap, sehingga si pemakai tidak silau ketika harus menatap ke arah sumber cahaya.

Orang memakai kacamata sesuai kebutuhan, untuk mempertajam atau sebaliknya justru menghalangi penglihatan. Akan tetapi ada pula orang memakai kacamata "hanya" sebagai pelengkap penampilan dirinya. Sering terjadi para saudara yang tuna netra menutupi mata dengan memakai kacamata hitam.

Karena kacamata itu pada umumnya dipakai untuk mempertajam penglihatan, maka pemakai kacamata yang tidak memperhatikan orang lain dikatai kotor dengan ungkapan "tesmak bathok, mata mlorok, ora ndedelok" yang artinya pemakai kacamata dari tempurung kelapa, meskipun mata lebar terbuka, tetapi tidak melihat aku ini siapa. Ungkapan ini dipaki untuk menunjuk orang yang tidak memperhatikan orang lain, mungkin saudara, tetangga, kenalan, dsb.

Sebutan kacamata juga dipakai untuk menunjuk perspektif yang dipakai seseorang untuk melihat kenyataan sosial.  Ada sebutan "kacamata kuda" artinya orang yang memiliki perspektif tertutup berdasarkan keyakinan dirinya, sehingga semua kenyataan sosial dimaknai sesuai dengan perspektifnya yang tertutup itu. contohnya, kaum beragama yang terjebak bahkan terbelenggu oleh dogma, atau ajaran dan aturan agama yang dipeluknya. Karena di agamanya diajarkan bahwa hanya orang yang beragama seperti dirinya yang selamat, maka orang menganggap dan memperlakukan orang yang berbeda agama sebagai orang yang tidak selamat. Sebaliknya orang yang memiliki perspektif terbuka, meskipun sebagai pemimpin agama, ia akan mengajarkan bahwa keselamatan itu tidak ditentukan oleh agama yang dipeluk seseorang, melainkan oleh perbuatan baik atau budi pekerti luhur, sebagaimana diajarkan oleh agama yang dipeluknya itu.

Orang yang memiliki hati bersih akan melihat segala kenyataan sosial dengan bersih. Sebaliknya yang berhati kotor akan melihat kenyataan sosial semua serba kotor. Jokowi itu presiden yang baik atau buruk? Sangat tergantung dari perspektif si pelihat. Orang yang tidak suka kepada Jokowi akan selalu menilai Jokowi itu salah dan keliru melulu. Sebaliknya orang yang memiliki perspektif bersih akan melihat kekurangan Jokowi tetapi juga kelebihan, keberhasilan tetapi juga kekurang-berhasilan Jokowi.

Orang yang memiliki perspektif positif terhadap dan tentang orang lain, dapat memperlakukan orang lain sebagai saudara. Mungkin orang lain itu berbeda agama, suku, ras atau bangsa,  kemampuan ekonomi, pilihan politik, kecenderungan budaya, dsb tetapi ia melihat dan menyikapi orang lain itu sebagai sesama yang persis dengan dirinya sendiri.