jendela


jendela itu dari bahasa portugis janela.
lha kalau jendela itu berasal dari luar, apakah kita mula-mula tidak mengenalnya?
tidak.
tradisi membangun kita di nusantara ini tidak mengenal tindakan melubangi dinding. 
bahkan, istilah dinding itu pun perlu hati-hati kita mengerti asal-usulnya, sebab kita memahami dinding secara berbeda dari kebanyakan orang di luar kawasan tropik sana.

apa itu dinding, dan apa itu jendela dalam tradisi membangun masyarakat nusantara?
saya tidak tahu apakah ada bahasa asli yang dipakai orang nusantara untuk menyebut dinding.

tapi, untuk ringkasnya, dinding adalah tabir penyekat ruang yang olehnya ruang dipisah-pisahkan jenisnya. orang nusantara yang tinggal di iklim tropik lembab menggunakan cara itu untuk menyekat ruang. iklim tropik tidak mengijinkan kita membuat sebuah kontainer, suatu ruang yang tersekat sempurna dari ruang lainnya. ruang seperti itu tidak sehat, sebab tidak membuang udara lembab keluar, sehingga teknik menyekat ruang yang seperti itu tidak dikenal.

yang kita kenal adalah ruang yang satu dengan yang lain masih terhubung oleh aliran udara.
bagi orang tropis, udara yang mengalir itu penting, sebab dengan itu maka kelembaban udara yang tinggi itu bisa diusir pergi. sebagai konsekuensinya, hubungan-hubungan sosial kita pun encer: mudah menerima yang datang dari luar, dan mudah berbagi pula.

angin itu dihormati di sini. karenanya maka rumah-rumah orang di nusantara tidak pernah menahan angin. ia hanya dilunakkan efek destruktifnya. dilunakkan dengan krepyak atau dengan memasang tabir yang tidak membagi-bagi ruang tapi hanya menyekatnya saja.

jendela terjadi karena orang portugis harus membangun dinding yang menurut tradisi moyang mereka bukan tabir tapi benteng tebal. belajar dari situasi tropik, mereka butuh lubang padanya. lahirlah jendela, suatu konsep baru yang kemudian menambah kekayaan vokabuler arsitektur nusantara. 

jadi, jendela lahir dari kebutuhan orang luar yang tinggal di sini.
mereka sadar, tidak mampu melawan kekuatan alam lokal sehingga mengalah dengan memakai cara yang mereka kenal dan cocok untuk situasi lokal sini. janela menjadi jendela. yang dari luar terintegrasi jadi milik sendiri.

begitulah,
kekayaan kita itu terjadi dari keragaman perjumpaan dengan bangsa dan peradaban lain.
bila demikian halnya, mengapa kita takut untuk berjumpa, berbagi dan berubah, bila melalui itu kita makin selaras dengan dunia yang juga berubah?

anto