JATUH DARI MOTOR (1)


Sepuluh hari lalu, Minggu 10 April pk. 13.50 pulang dari pemakaman seorang warga,  aku yang berboncengan dengan istri, jatuh dari motor. Jalan tempat aku jatuh memang sulit, berbelok tajam ke kiri, dan menurum curam. Kecepatanku saat celaka bisa dipastikan sangat rendah, paling 20 km per-jam, maka jatuh iya langsung berhenti, tidak meluncur apalagi terseret model pembalap Motor GP di TV kalau jatuh.  Aku sadar sejak motor oleng sampai jatuh ke kiri, mendapati dadaku kiri sakit terbentur setang atau spion, juga sadar bahwa aku jatuh lebih dahulu, jadi bantalan menahan jatuhnya istri yang membonceng ikut terbanting ke punggungku yang jadi bantalan jatuhnya.

               Kuraih jam tanganku yang lepas karena pin yang mengikat rantainya tercabut dari tempatnya. Juga kumasukkan kembali handphone dan pulpen di saku baju yang tadi juga berhambur keluar. Ujung jari manis tangan kiri sobek mengucurkan darah. Kaki kiriku tertindih motor sehingga aku tak bisa bergerak. Syukur istriku yang kaget bisa langsung bangun, mencoba mengangkat motor yang menindihi kaki kiriku, sama sekali tak bergeming, kubilang saja, “Sudah, tunggu nanti ada yang lewat”. Di sebelah atas, ada dua anak yang sebelumnya bermain-main sekarang terbengong melihat kami, diteriaki istriku, “Njaluk tulung golekna wong!” dan larilah mereka entah kemana.

               Satu, dua, tiga menit kemudian lewatlah seorang bapak dan anak membawa motor, tak lama kemudian ada truk lewat, sopir berhenti dan meloncat ke arahku, hampir bersamaan satu orang lain juga datang menolong. Motor ditegakkan, kakiku bisa lepas,  berdiri, terasa sakit di dada, tapi semua bisa bergerak normal. Jariku yang berdarah sudah dibebat sapu tangan. Aku menolak saat di minta menunggu dicarikan obat merah. “Matur nuwun, nanti saya rawat di rumah”. Motor kunaiki, istri membonceng lagi. Ayo pelan-pelan balik ke rumah. Jarak ke rumah sekitar 10 km. Saat hampir tiba, kurasakan pundak kiri dan dada semakin berat, sakit, ampeg (sesak tidak leluasa bernafas), akhirnya tibalah di rumah.

               Forest Gump pernah populer dengan stiker bertulisan “Shit happen”. Terakhir aku jatuh dari motor tahun 2006, malam-malam hujan, di belokan, ditabrak anjing menyeberang, membuat aku dan motorku meluncur lebih dari satu pekarangan rumah jauhnya. Sesudah itu, selamatlah.  Sekarang kualami lagi. “Shit happen!”  Mengapa terjadi lagi? Jangan tanya aku, aku juga tak mengerti, aku juga tak mengingini terjadi. Apakah kita memang harus selalu bisa mengerti dan paham tahap demi tahap hidup yang kita jalani?