jamban


dalam foto ini kita bisa melihat bagaimana dan di mana orang jawa membuang air besarnya.
jamban kadang-kadang disebut sebagai kakus. suatu istilah dari bahasa belanda 'kakken' yang artinya buang air besar. memang di kakus kita melakukan itu.dengan posisi tubuh jongkok bukan karena sedang merendahkan diri, kita menjalankan ritus yang penting bagi kelancaran pencernaan dan kesehatan tubuh.

tidak hanya urusan beresnya pencernaan tubuh, jamban -menurut junichiro tanizaki, novelis kondang di awal modernisasi jepang- adalah lokasi yang setara dengan tempat suci. tempat kita membuang yang tidak perlu dan mengosongkan diri untuk kehadiran ide-ide baru. dengan jongkok di sana, sempurnalah proses pelepasan dan masuknya inspirasi.
jamban adalah tempat mencari inspirasi.
orang jawa belum lama mengenal jamban. 
sebelumnya, mereka cukup masuk ke dalam kali dan jongkok di sana, bisa sendirian bisa pula bersama-sama. di kali, mereka membersihkan diri dari kotoran yang melekat di permukaan badan maupun membuang kotoran dari dalam badan.

tahun 30-an, di semarang, kebiasaan orang jawa itu mengalami penataan. didahului oleh epidemi pes dan merostnya mutu air minum, jamban ditata letaknya, diintegrasikan dengan rumah induk dan karenanya dikenallah konsep buang air besar personal yang bersifat privat, di rumah masing-masing. maka lahirlah kakus itu. terpaksa pula tradisi baru itu diterima dan dipraktikkan dengan namanya sekaligus diimport: kakus.

dibuatnya kakus menandai digesernya aktivitas yang semula publik menjadi privat.
dan kita bersyukur karena saat itu kita jadi punya waktu untuk menyendiri. suatu modal penting untuk bangkitnya tradisi membaca dan menulis. sebab, membaca dan menulis -kegiatan yang subur dengan sirkulasi ide- membutuhkan keberanian untuk menyendiri.

tidak heran, banyak orang membawa bacaan bila pergi ke jamban!
termasuk lahirnya ide untuk membuat tulisan ini!
[jiaan nggilani tenanok!]
-- 
anto