Jadilah Wong Edan

Kata 'edan' disebut juga 'gila'. Itu pula yang dilakukan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Orang gila adalah orang yang dianggap kurang beres ingatannya, sakit jiwa, karena pikirannya tidak normal. Nah, adakah yang menarik untuk dibahas dari orang gila atau wong edan ini?

Wong edan selalu lebih menarik untuk disimak daripada orang biasa. Kisah Mbah Sadiman adalah buktinya. Seperti kita tahu, Mbah Sadiman itu terhitung wong Edan.

mbah sadiman


"Saya iri dengan Mbah Sadiman, Mas Andy", kata Mas Yusmanto -relawan Garda Hijau Bumi- di acara Kick Andy. "Saya iri, karena Mbah Sadiman sudah jadi wong edan. Coba bayangkan, anak-istri ditinggalkan, demi pergi ke hutan. Lama lho Mas Andy, selama 19 tahun.. untuk penghijauan. Benar-benar edan, kan?"

Tak pelak, kegilaan, ke-edan-an Mbah Sadiman pun sungguh berdampak. Bukit Gendol yang semula gundul menjadi ijo royo-royo. Desa Dali dan sekitar yang semula krisis air bersih, kini berlimpah beningnya air yang mengalir. Keedanan Mbah Sadiman berhasil meriwayatkan kesucian air. Di balik air yang kini deras mengalir itu, terpahat aliran keringat sang sosok renta namun perkasa, si orang gila dari Bukit Gendol.
(selengkapnya klik ini)

Masih ada lagi kisah wong edan lainnya. Benar-benar pengikutnya wong edan, orang tidak waras dari Nazaret (Markus 3:21). Dialah Bapa Suci Paus Fransiskus.

Sungguh gila! Berani-beraninya orang ini mengubah tradisi yang telah berusia ratusan tahun! Ya, pada hari Kamis Putih yang lalu, 24 Maret 2016, Paus dari Argentina ini membasuh kaki para migran. Mereka adalah orang Muslim, Kristen dan Hindu yang dibasuh kakinya hingga diciumnya.

"Vatikan mengkonfirmasi empat wanita dan delapan pria menjadi partisipan. Satu wanita Katolik, tiga migran beragama Kristen Koptik Eritrea. Sementara para pria, yakni empat Katolik dari Nigeria, tiga Muslim dari Mali, Siria dan Pakistan. Serta seorang Hindu dari India."
(http://internasional.kompas.com/read/2016/03/25/11042091/Di.Kamis.Putih.Paus.Fransiskus.Basuh.Kaki.Migran.Muslim)



Apa hendak dikata, menyaksikan kegilaan ini? Mbah Sadiman dan Paus Fransiskus sama-sama menunjukkan kegilaannya masing-masing. Mbah Sadiman mempersembahkan kebaktian hidup untuk hutan lebih dari 19 tahun. Paus Fransiskus berani gila dengan menjadi jembatan kencana untuk peradaban. Sungguh berdaya kata-kata dalam Kitab Suci "... kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan."

Paus Fransiskus tidak ingin diteror oleh para "Pilatus" zaman ini yang menebarkan Islamophobia. Ketika menuang air suci di kaki laki-laki Mali, Siria dan Pakistan, mengelap dan kemudian menciumnya adalah terjemahan hidup bahwa Islam tidak untuk ditakuti. Karena Islam juga tidak menakutkan. "Dari asal katanya, Islam berarti kedamaian. Mengatasnamakan agama Islam berarti menampilkan unsur-unsur perdamaian."
(http://islami.co/belajar-dari-paus/)

Baik Mbah Sadiman maupun Bapa Suci Fransiskus, bagiku adalah inspirasi  betapa zaman ini butuh wong edan. Butuh tindakan yang lebih dari biasa. Maka kuakhiri tulisan ini dengan ajakan, jadilah wong edan untuk kemuliaan Nama TUHAN. [seti

(Jebule sing nulis ki edan tenan yo Lur, lha Paus Fransiskus dibandhingke mbek Mbah Sadiman. Ha yo ben, wong Mbah Sadiman ki wong Wonogiri je, tangga kecamatan...)