Ibu yang Terabaikan


"begitulah kita, sering mengabaikan ibu."
~sang maha~

Pahatan kata sang maha pada hari kartini tahun ini punya nuansa istimewa. Renungan tentang figur ibu dikontemplasikan berdasarkan panggilan jiwanya sebagai seorang arsitek. Maklum, kebaktian sang maha pada dunia arsitektur memang sudah sedemikian terukur.

Kiranya tidak mengherankan bila dalam menyampaikan ujaran tentang sosok ibu, segi arsitektur pun melebur dalam buah permenungannya. Simaklah kata-kata berikutnya: "ibulah yang membukakan dunia anak agar melalui kata-kata si anak dibawa masuk ke dalam dunia manusia, yang memang terbangun dari kata-kata." Ibulah sang arsitek dunia kata bagi anak-anaknya. Berkat sang perancang dunia kata ini, peristiwa keselamatan yang mengagumkan pun digelar di tengah peradaban dunia.

Namun, mengapa banyak orang sering mengabaikan ibu? Tentu termasuk diriku, seorang kristen protestan ini.
Syukurlah, Putra Allah datang ke dunia tidak mengabaikan peran seorang ibu. Dialah Maria, bunda Kristus, yang mempersembahkan rahimnya. Seorang perempuan sederhana yang dipilih Bapa sehingga Sang Kata bisa menjelma menjadi manusia.

Ada seorang ibu, yang turut menentukan sejarah keselamatan. Ada seorang ibu yang memahami betapa kata-kata itu suci. Dialah sang ibu yang begitu dekat dengan Kata Kehidupan kekal. Dialah sang bunda yang merangkul baik kelahiran maupun kematian dengan penuh cinta.
Dia tidak membedakan Betlehem sebagai kota kelahiran dan Golgota sebagai bukit pengorbanan. Keduanya dijangkau dengan cinta keibuannya. "Juxtra crucem Iesu" -dekat salib Yesus, sang ibu bersimpuh dan tersedu.

Ah, mengapa aku sering mengabaikan peran dan cinta sang ibu ini? Tak ada kata salam terucap secara khusus tertuju kepadanya.

Untunglah ada Ibu Elisabet. Perempuan yang mengajarkan pentingnya mengucapkan salam kepada Maria: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu."

Terima kasih sang maha, untuk kata-kata Kartini yang membuka banyak jalan bagi lahirnya tulisan ini. |seti