Hutang

Dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini hutang itu sesuatu yang biasa. Tidak ada orang yang tidak mempunyai hutang. Bahkan orang yang tidak suka berhutang pun akhirnya berhutang sebab ditawari, dibujuk, dimotivasi agar berhutang. Jalan raya sekarang dipenuhi oleh sepeda motor, sebab hanya dengan membayar awal 500.000 rupiah saja orang sudah bisa berhutang dan pulang ke rumah dari dealer motor menaiki sepeda motor milik pribadi. Oleh sebab itu sekarang orang sudah tidak merasa malu menyatakan bahwa dirinya berhutang. Ada pula orang yang meyakini tanpa berhutang orang tidak akan dapat memiliki harta benda yang dibutuhkan. Untuk memiliki rumah yang ukurannya sangat kecil pun orang harus berhutang. Tanpa berhutang mutashil bisa memiliki rumah sangat kecil itu.

Meskipun hutang itu sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar, namun ada pula orang yang hidupnya makin hari makin susah dan bahkan mengalami keputus-asaan sebab terlilit oleh hutang. Orang yang demikian itu antara lain disebabkan oleh ketidakmampuan menolak bujukan, motivasi, rayuan yang diterimanya melalui iklan. Iklan itu memang dibuat untuk memicu-micu keinginan untuk memiliki yang berlebihan sehingga untuk mendapat benda yang diinginkan itu orang mengabaikan perhitungan. Akibatnya hidupnya dibebani hutang yang makin hari makin membesar. Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “luwes yen golek utangan, lan sabar yen wancine nyaur utang” (luwes atau sangat liat ketika membujuk untuk berhutang dan sabar ketika sampai waktunya untuk membayar hutang). Kecenderungan demikian ini agaknya yang juga menjadi salah satu penyebab orang terlilit hutang.

Sejak kapan hutang itu menjadi tradisi? Mungkin sejak orang menciptakan uang sebagai alat pembayaran. Orang tidak lagi saling menukarkan benda atau melakukan barter, tetapi menukarkan barang dengan uang. Karena tidak mempunyai uang padahal menginginkan barang maka orang berhutang. Yang menarik adalah dalam lingkungan umat Kristen dosa juga diidentikkan dengan hutang.