H.O.P.E - Hold On, Pain Ends

Hal yang paling sukar dilakukan oleh seorang "pelayan" adalah menemani mereka yang ada dalam masa dukacita. Sesungguhnya tidak ada sepatah kata pun yang  dapat mengobati atau setidaknya mengurangi pedih akibat perasaan ditinggalkan. Oleh sebab itu, saya sering gagal paham dengan mereka yang mampu berkhotbah dengan durasi yang cukup panjang dalam ibadah-ibadah penghiburan. Lha wong untuk menelan butiran nasi saja, nggak sanggup, apalagi untuk mendengarkan khotbah, yang temanya tentu sudah jelas dapat diduga. Yahhh,,, tapi itulah yang menjadi kebiasaan. Ibadah, dalam konteks apapun, dirasa tak lengkap tanpa adanya khotbah.

Saya jadi teringat dengan kisah Ayub yang rasa-rasanya sangat mengenaskan. Bukan hanya mengenaskan karena kehilangan materi dan anak-anak terkasih, melainkan juga karena di masa dukanya, ia malah dikhotbahi. Di awal masa duka, sahabat-sahabat Ayub menunjukan empati yang sangat mendalam. Mereka mengekspresikan empati mereka dalam tradisi mengoyak jubah dan menabur abu, serta duduk menemani Ayub dalam diam, selama tujuh hari tujuh malam. Dikatakan, "Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat bahwa sangat berat penderitaannya." Luar biasa, bukan? Tim pelayanan kedukaan mana yang sanggup memberikan totalitas pelayanan seperti sahabat-sahabat Ayub? Namun, ketika Ayub pada akhirnya sanggup berbicara tentang isi hatinya, pergumulan imannya dan kesesakannya, sahabat-sahabat Ayub mulai berbicara pula. Masalahnya, mereka berbicara karena ingin berbicara -"Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya? Ayub 4:2"- bukan dalam rangka menjadi teman seperjalanan Ayub dalam melewati kesesakannya.

Suara-suara yang bernada 'harus' : harus legawa, harus terima, harus melepaskan, harus merelakan, dan semacamnya, hanya menambah beban serta memperparah kepedihan. Pada akhirnya, setiap mereka yang berduka hanya ingin ditemani, dimengerti, dipahami. Kognisi mereka sungguh tahu bahwa kekasih mereka adalah milik Tuhan. Tuhan hadir, mengerti, mengasihi, bahkan punya rencana yang terbaik dalam hidup manusia, tapi bukan itu yang mereka butuhkan. Rasa mereka masih terluka, pedih, dan rapuh, butuh direngkuh dalam pelukan hangat dan diam yang menenangkan. Lalu, bagaimana gereja dapat menjadi teman seperjalanan mereka dalam duka, menyampaikan berita pengharapan bahwa Tuhan masih ada, bahwa kita sanggup bertahan, karena rasa sakit ini pun akan berlalu. Mereka merindukan ibadah yang tak foya dalam kata, namun sarat akan makna.