hilangnya para pendongeng

Ing sawijining dina ing negara Medhang Kamulan, ana juru masak sing lagi nyawisake dhaharan kagem Prabu Dewata Cengkar. Amarga kesusu, juru masak mau ora krasa yen drijine kairis peso nalika ngiris daging. Drijine juru masak mau nyamplung neng kuali lan katutan kamasak.

Bareng dicawisake ing ngarsane Sang Prabu Dewata Cengkar, Sang Prabu nuli kaget nalika krasa ana sing nggrenjel ing tutukke. Bareng rampung dhahar, juru masak mau nuli ditimbali
“Sing komasak iki apa, he Juru masak?”
“Anu, Prabu, nyuwun pangapunten saestu, punika kalepatan dalem. Punika sop ingkang katutan driji dalem ingkang katut kamasak.”
“We, lha dalah.... jebul sing marai uenak tenan ki drijimu ta?! Jebul daging manungsa kuwi enak tenan! Wiwit saiki, aku tulung gawekna masakan saka daging manungsa saben dina! Awas, yen ora kogawekne, awakmu dhewe sing arep dimasak!” 
Wiwit saka kadadean iku, Prabu Dewata Cengkar dhahare mesthi ngersakake daging manungsa. Wong-wong banjur padha wedi karo Panjenengane amarga saben dina kudu ana sing dikurbanake pinangka dhahare Sang Prabu.


Demikianlah almarhum eyang putriku yang begitu fasihnya mendongengkan cerita sebelum aku terlelap. Hampir setiap malam dongengnya menghantarkanku tidur. Eyang putriku adalah pendongeng ulung. Belia mampu menghadirkan suasana dan menghidupkan tokoh yang ada dalam cerita. Seperti kisah Prabu Dewata Cengkar tadi, eyang putri benar-benar menghidupkan tokoh juru masak yang sangat ketakutan dan Dewata Cengkar yang sangat bengis. Dongeng yang dituturkan oleh eyang putri begitu erat melekat dalam ingatanku. Kisah Aji Saka yang mengalahkan Dewata Cengkar, kisah Jaka Tingkir yang menyeberangi Bengawan Solo dengan dibantu empat puluh buaya, kisah kancil, bawang merah bawang putih, hingga kisah-kisah di dalam Kitab Suci, semuanya masih kuingat jelas.  

Begitulah dongeng yang bukan hanya semata menyampaikan cerita, tetapi juga membangun keintiman personal hingga dapat membekas dalam memori kehidupan. Bukan hanya berkisah, tetapi juga berhermeneutik. Menjadi jembatan. Dari cerita yang dipaparkan lalu mau apa dan bagaimana kita? Cerita itu bukan hanya alur yang mengalir begitu saja tetapi harus dimaknai dengan hadirnya petuah bijak yang disesuaikan dengan jaman yang ada.

Sejarah Israel sangat dekat dengan hal mendongeng. Setiap hari Sabat, keluarga berkumpul di dalam rumah. Setelah membaca Kitab Suci, sang ayah kemudian mulai menceritakan kisah-kisah leluhur mereka yang tertulis di Kitab Suci hampir sepanjang hari. Dongeng inilah yang mampu menanamkan iman dalam diri anak-anak kepada Tuhan. Dongeng pulalah yang membangkitkan semangat kebangsaan mereka ketika sedang menghadapi musuh.

Masih adakah pendongeng-pendongeng yang menuturkan cerita kepada anak cucunya pada jaman ini? Ah, repot-repot amat... bukankah tinggal buka laptop, nyalakan tablet, putar video dari Youtube, beres sudah? Para penyampai cerita jaman sekarang memang bukan lagi manusia, tapi komputer. Oleh karenanya keintiman yang terjalin bukan antara anak dengan orang tua atau simbah, tapi antara anak dengan gadgetnya. Kemana anak bertanya ketika menghadapi kebuntuan? Bukan lagi ada anak bertanya pada bapaknya, tapi ada anak bertanya pada tabletnya. Maka jangan heran kalau sudah demikian perintah orang tua tidak mempan. Anak lebih nurut dan patuh apa kata laptop.
Apa yang diterima dari laptop ataupun tablet itu sebenarnya tidak akan tahan lama. Tidak ada sentuhan, tidak ada sapaan, tidak ada senyuman... Gersang. Kaku. Lalu ke manakah hilangnya para pendongeng sekarang? Tidurkah? Matikah?

Doaku di hari ini adalah (sederhana saja) agar anakku kelak dapat mendengarkan dongeng dari tuturan ayah bundanya. Akan kugoreskan cerita-cerita bermakna dengan mendongeng sebagai warisan yang tak ternilai harganya. (dpp)

* untuk alm. eyang putri Dharmowiguno

Eyang Dharmowiguno