Hana Kidung


Hana kidung rumeksa ing wengi
teguh ayu luput ing lelara
luput ing bilai kabeh...
~Kidung Mantrawedha~


Kudapatkan teks kidung Mantrawedha tersebut dari Rm. Sindhunata. Lewat bukunya Aburing Kupu-kupu Kuning. Buku dalam bahasa Jawa yang enak sekali dibaca dalam kehausan pada kasih sang bahasa ibuku. Jawa.


Selama studi teologi di F.Th UKDW, buku itu menjadi teman setiaku memandang dan menyaring (nawangsih) rahmat dan cinta Hyang Ilahi. Bersama buku satunya, nDherek Sang Dewi ing Ereng-erenging Redi Merapi. Dua buku yang melukiskan peziarahan iman, menemukan Allah dalam segala. Sangat khas ignasian.


Pada malam doa syukur atas anugerah cucu keluarga Bp. Sudarto Utomo, kidung mantrawedha berkumandang menembus sepinya malam. Adalah Pnt. Suhardiwiyono yang mendendangkannya dengan suara yang merdu. Rupanya, teks kidung yang pernah aku berikan pada beliau masih tersimpan dengan rapi. Aku pun sangat bersyukur dan menikmati, lantunan kidung Pak Hardi. Ya, mantrawedha adalah kidung yang sangat kusuka, sekalipun aku tak bisa mendendang macapat seperti bapakku.


Mantrawedha adalah kidung yang penuh makna. Kuasa doa sebagai mantra pelindung menjadi kekuatan kidung itu. Eksistensi kekuatan Ilahi menjadi kesadaran mutlak di dalamnya.


Karena itu pula, pada malam doa menjelang pernikahan, aku minta bapakku memadahkan kidung suci tersebut. Tidak ketinggalan, pada upacara pemberian nama putra kami Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti, lagi-lagi, bapakku melantunkan kidung mantrawedha:


Hana kidung rumeksa ing wengi
teguh ayu luput ing lelara
luput ing bilai kabeh
jim setan dhatan purun
paneluhan tan hana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan wani perak ing mami
tuju guna pan sirna...
|seti