guna agama


"The time has come for us to consider seriously how to change our way of life not through prayer or religious teaching, but through education."

Sejak zaman dahulu, agama memang sering dikritik. Mengapa? Karena peran agama bagi kebaikan manusia terus dipertanyakan! Di harian Kompas (22 April 2016) Komaruddin Hidayat, cedekiawan muslim itu, mengulas kembali gugatan atas agama.

Merunut pandangan Marxian, agama memiliki asumsi dan metode yang keliru dalam mengatasi problem sosial, maka tak pernah tepat sasaran. Di dunia ini penderitaan begitu masif dan beragam. Solusinya mesti melalui analisis dan aksi sosial yang empiris. Terukur. Bukan malah lari kepada Tuhan yang menawarkan penyembuhan psikologis sesaat, tanpa menyelesaikan masalah utama. Tak cukup dengan solusi normatif-metafisis a la agama. Begitu kira-kira gugatan Marxian.

Namun demikian, agama lahir dan tumbuh dalam ragam warna yang berbeda dengan ilmu alam dan ilmu sosial yang lebih empirik dan terukur.
"Salah satu kekuatan agama yang membuatnya selalu eksis sepanjang zaman adalah (bahwa) agama MAKNA dan HARAPAN ketika seseorang dihadapkan derita dan misteri hidup...." ungkap Hidayat. Namun oleh para pengkritik, justru di situ pula kelemahan agama. Derita dan persoalan hidup "dimanipulasi" dengan jawaban metafisis-spekulatif.

Belum lagi kalo menengok segi sosial,  agama memiliki peran pemersatu bagi yang seiman, namun sekaligus pemisah bagi liyan yang tidak seiman. Memang, eksklusifisme tidak hanya milik agama. Namun eksklusifisme agama dapat menjadi begitu kuat. To exclude. Lihatlah fenomena rebutan umat, bahkan rebutan surga dan rebutan Tuhan di antara beberapa agama. Diikuti saling kutuk dan saling hina.

Di sisi lain, harus diakui bahwa agama melahirkan sekian banyak manusia pencerah zaman. Para tokoh yang termahsyur itu. Lantas, apakah kedalaman agama hanya menjadi monopoli para tokoh? Lalu, siapa yang dapat mengukur kedalaman itu? Dengan alat ukur apa? Entahlah. Mungkin para pencerah itu tak berhenti pada beragama, namun menghidupi laku spiritualitas. Laku itu yang seringkali menjadi ruang sepi yang jarang dikunjungi.

Barangkali baik jika kita merenungkan ungkapan seorang pencerah bernama Dalai Lama. Seorang Budha. Budha yang oleh penguasa disebut agama, padahal laku hidup. Bahwa kita perlu menyadari, yang dapat mengubah dunia adalah pendidikan. Bukan sekadar doa dan pengajaran agama.

_argo