Gula Merah

Ini gula merah yang punya sejarah. Maka ingin berkisah. Bukan kisah masa lampaunya, namun lebih pada kisah aktualnya.

Baru saja kuterima seplastik gula merah. Pemberian langsung dari Mbah Kromo putri seusai ibadah. Beliau sengaja mengantri berjabat tangan paling belakang. Beda dengan biasanya berada di barisan depan.

Plastik kumal warna hitam itu pun aku bawa masuk dalam ruang doa konsistori. Ketika Majelis Gereja mempersembahkan doa, pikiranku melayang jauh, sampai kata suci "amin" terucap jelas.

Mbah Kromo kakung-putri, dalam usia tua, tinggal berdua saja di rumahnya. Sekalipun usia tak lagi muda, masih nderes pohon kelapa. Tentu dengan memanjat, yang membuat setiap mata yang melihat terperanjat. Bayangkan saja, usia berkepala delapan masih mampu menaklukkan ketinggian pohon kelapa di sekitar rumahnya.

Hasil nderes itu yang kemudian diolah menjadi gula merah. Disebut juga gula jawa. Gula yang selanjutnya dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hari ini, gula jawa untuk kebutuhan hidup satu hari itu, diberikan kepadaku. Masih dalam rangkaian tata ibadah pula. Aku diperkenan menerima persembahan yang istimewa.

Jiwaku pun kini merenung. Kehidupan sehari Mbah Kromo telah diberikan kepadaku. Ya, seluruh nafkahnya hari itu direlakan untukku. Seperti kisah janda miskin yang dituturkan Rasul Lukas.

Aku kini menyepi untuk menyadari betapa hidup itu suci. Seperti hidup Mbah Kromo yang diberikan kepadaku. Hidup yang diberikan itu menjadi suci, karena diselimuti cinta-kasih murni.

"Inikah berkah paskah itu?" tanyaku dalam kesunyian. "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"

Kata-kata dalam Wahyu 7:12 pun kudaraskan lagi dalam hati. Sebagai pujian kemuliaan sekaligus doa untuk Mbah Kromo yang telah menyampaikan homili melalui tindakan nyata. Hidup itu untuk memberi, sehingga menjadi suci. |seti