Going My Way - mau yang serius atau yang semau gue?? (film tahun 1944)


Tidak ada gunanya rebut bener, yang malah membuat keadaan semakin keruh. Ya, dinikmati saja...

Film ini benar-benar mengemas masalah yang serius menjadi sebuah tontongan yang ringan dan menggelitik. Dikisahkan seorang pastor muda yang bernama O’Malley ditugaskan mendampingi pastor yang sudah sepuh yang bernama Fitzgibbon. O’Malley dengan Fitzgibbon adalah dua pribadi yang sangatlah berbeda, baik sifat, penampilan, serta pola pikirnya. O’Malley adalah seorang yang enerjik, terbuka, luwes, dan suka bercanda. Kebalikannya, Fitzgibbon adalah seorang yang tenang, kaku, klasik, dan sangat serius. Berbagai kelucuan pun muncul saat mereka berdua menghadapi masalah-masalah kehidupan jemaat yang kemudian akhirnya berjalan sendiri-sendiri karena kesulitan untuk bekerja sama. Ketegangan di antara keduanya pun semakain nampak saat penugasan O’Malley ternyata bukan hanya mendampingi Fitzgibbon saja, tetapi kelak akan menggantikan posisinya sebagai pastor utama. Di tambah lagi bagaimana O’Malley berhasil membentuk paduan suara di kalangan umat gereja, membuat Fitzgibbon jatuh sakit dan melarikan diri dari gereja karena sudah tidak tahan lagi.



Begitu segar, permasalahan dua pastor ini dikemas menjadi tontonan yang ringan. Di balik kesuksesan film ini, sebenarnya menyimpan kritik yang tajam bagi gereja (kapan pun dan di mana pun) mengenai masalah yang cukup serius yang dihadapi dalam mewujudkan regenerasi kepemimpinan. Munculnya post power sindrome dari pastor Fitzgibbon di film ini sebenarnya adalah kritik bagi para pemimpin yang sudah atau hampir saatnya untuk dapat menerima keadaan dengan legawa. Pun demikian dengan yang muda, pastor O’Malley digambarkan terkesan masih pecicilan, kurang begitu menyadari tugas panggilannya sebagai pastor, dan masih membayangkan kehidupan yang bebas dan semau guwe seperti di seminari.

Lantas ketika sudah terjadi seperti ini apa yang harus dilakukan? Film ini mengemasnya dengan nuansa  komedi. Bisa jadi mengajak gereja untuk tetap berkepala dingin ketika menghadapi perbedaan seperti ini. Tidak ada gunanya rebut bener, yang malah membuat keadaan semakin keruh. Ya, dinikmati saja... yang tua dan yang muda, duduk bareng, bukan beradu argumen, tetapi tertawa bersama... hahaha... (meskipun tertawanya kecut – karena dipaksa tertawa) -dpp



Salam Sinema!!!