Gadai

Seseorang yang menginginkan barang atau benda tertentu tetapi tidak mempunyai uang ia dapat meminjam uang untuk membeli barang atau benda tertentu itu. Dengan berhutang ia dapat memenuhi keinginannya. Salah satu cara untuk berhutang adalah menggadaikan benda atau barang tertentu. Barang atau benda yang digadaikan itu menjadi jaminan. Apabila sampai dengan waktu harus membayar hutang ternyata si penghutang tidak dapat membayar hutangnya maka benda atau barang itu menjadi milik si pemberi hutang.

Dengan semboyan “mengatasi masalah tanpa masalah” pegadaian mengembangkan jasa pelayanan untuk member pinjaman dengan tanggungan (agunan) benda atau barang tertentu. Memang orang yang menggadaikan itu berkewajiban untuk menebus benda atau barang yang digadaikan. Yang menebus bisa orang yang menggadaikan tetapi bisa juga orang lain. Bukti gadai dengan demikian juga bisa dijual, sebab uang tanggungan biasanya di bawah harga semestinya. Oleh karena itu tidak jarang di dekat atau bahkan di depan tempat penggadaian ada kerumunan orang yang menawarkan diri sebagai penebus gadai dengan membeli surat bukti gadai terlebih dahulu.

Agaknya dosa yang disebut sebagai hutang di linkungan Kristen itu lebih bersifat hutang sebagai gadai ini. Sebagaimana terungkap dalam kisah tentang Boas yang menebus Rut, si Boas yang masih saudara Elkana, mertua Rut, layak bahkan wajib menebus tanah milik keluarga Elkana yang digadaikan. Konsep demikian ini yang agaknya dipakai untuk menyebut orang yang berdosa itu layak bahkan wajib ditebus agar tidak selamanya dikuasai oleh dosa dan maut.