doek..doek..doek..


spandoek [kain rentang] itu sejenis dengan handoek [kain lap tangan], halsdoek [kain utk dibelitkan di leher], doek pramuka dan berbagai doek yang lain...  semuanya secarik kain, dengan berbagai fungsi dan untuk berbagai kepentingan.

dan spandoek punya posisi istimewa karena ia umumnya digunakan sebagai medium untuk memaklumkan sesuatu ke publik. dari iklan penawaran barang dan jasa, ajakan pemerintah dan penguasa, peringatan polisi lalul intas, hingga pernyataan-pernyataan politis untuk membangun kesatuan opini masyarakat.
jadi, bukan bahannya, tapi isi pernyataan di spandoek itu yang diperhatikan orang.   

ruang publik di kota kita sudah menjadi lautan spandoek seperti itu. dengan berbagai pesan dan berbagai jenis kepentingan. ada yang dari kalangan agama tertentu, kesatuan militer, pedagang, janji-janji perguruan tinggi, kampanye dini calon bhupati atau anggota perwakilan rakyat.. ruang publik kita sudah sama joroknya dengan pantai-pantai yang juga menjadi tempat pembuangan segala hal.

tidak adakah yang mengatur tempat tumpahnya berbagai pesan di ruang publik itu? ada, tapi mereka belum bisa kita percaya kenetralannya. belum bisa mengatasi segala ideologi, paham, ajaran yang dipublikasikan di ruang publik tadi. bahkan terkesan spandoek apa pun boleh dipasang di ruang publik kota kita. hanya perlu membayar 'sewa ruang' selama spandoek itu terpasang, ruang publik kita memberi harga sewa yang amat murah bagi pernyataan-pernyataan bebas di ruang publik kita.

kemudahan pemasangan di ruang publik itu didukung oleh kemudahan membuatnya di komputer-komputer kita. dikenalnya DIGITAL PRINT telah memampukan siapa saja bisa mendisain dan membuat spandoek itu yang sekarang dinamai dengan istilah baru: banner. ini membuka peluang makin semrawutnya pernyataan-pernyataan di ruang publik kota.

​barusan miilter dan salah satu ormas memasang pernyataan yang akan melawan spandoek-spandoek musuh NKRI [musuh ormas itu juga sih] yang isinya berseberangan dengan ideologi ormas tadi.

dengan munculnya spandoek perlawanan ini menandai perang spandoek baru mulai, dan mata kita diminta terus memelototi pertempuran ini. bila kita kurang peduli, maka pers akan memberitakan spandoek yang paling berani, paling kurang ajar, paling menjijikkan. begitulah pemberita, selalu mencari berita yang tidak biasa.

kekerasan kata-kata dan citra disebar melaluinya tanpa bisa ditolak pembacanya. bila dulu kekerasan itu berjangkit di pihak sana, sekarang bersemayam di pihak kita. spirit kekerasan itu -herannya- hidup terus, dan ada yang senang memeliharanya...

jadi,
apa sikap kita?
turunkan spandoek mereka, turunkan spandoek kita juga!


--
anto