Dia Bukan Superstar!!!



Saat dibuka audisi Indonesian Idol, ribuan orang berbondong-bondong untuk ngedaftar. Ribuan orang bercita-cita ingin jadi superstar. Selebritis. Masuk tipi!! Lah, apa yang dicari dari dunia selebritis? Alasan yang banyak mereka kemukakan, “aku ingin membanggakan Mama...” Hanya itu saja!!

Selebritis itu berawal dari pujian, sanjungan, apresiasi yang bertumpuk-tumpuk hingga membuat lupa diri. Setelah itu muncullah yang dinamakan penggemar. Fans. Slankers, Baladewa, Kerabat Kotak, Sobat Padi, Oi, dll. Setelah itu.... mereka bukan lagi murni berkarya tapi mereka harus jualan. Orientasi mereka bukan kepuasan berkarya tetapi bagaimana untuk mencari keuntungan. Mereka dituntut bisa memuaskan dahaga fans mereka. Fans adalah konsumen dan para seleb adalah produsen. Fans adalah nafas bagi para seleb. Sekali mereka ditinggalkan fans, tamatlah mereka...

Memang sepintas lalu jadi superstar itu merupakan sebuah kebanggaan. Tapi sejatinya tidaklah demikian. Itulah yang dihindari oleh Yesus. Saat Ia menyembuhkan seorang yang sakit kusta, di dalam Lukas 5 ayat 14, Yesus melarang orang itu untuk memberitahukan kepada siapa pun. Dan ketika banyak orang mendengar tentang kehebatan Yesus hingga berbondong-bondong kepada-Nya, apa yang dilakukan Yesus? Ia mengundurkan diri ke tempat yang sepi dan berdoa! (ayat 16)


Yesus tidak menginginkan diri-Nya disanjung berlebihan. Yesus tidaklah gila akan pujian. Dia lebih memilih mengundurkan diri dari keramaian untuk menepi dan berdoa. Pujian, sanjungan, dan apresiasi yang berlebihan itu adalah racun yang bisa membuat gelap mata. Fans itu hanyalah semu! Saat Yesus mampu membagi roti, ribuan orang berkumpul, memuji dan memuja-Nya. Tapi saat Yesus tak berdaya... tanpa mujijat, tanpa kuasa.... fans yang suka memuji pun bubar jalan! Fans nenek lu??? Demikian sindir Ahok.

Yesus bukanlah superstar! Biarkanlah Dia menepi di kesunyian hari. Biarkan Dia... Jangan ganggu Dia!  (dpp)