Di Tepian Misteri


Apa yang bisa kupahami ketika sedang sendiri? Menepi di tepian Kali Progo di kala senja?


Sepulang dari Bantul, aku menyeberangi kali Progo dengan naik perahu. Hari itu mentari sudah bersiap menyembunyikan diri di balik cakrawala senja, menunggu bunyi adzan tiba. Sesampai di seberang, aku sempatkan berhenti di bawah pohon beringin. Berkat pohon beringin inilah, tempat penyeberangan -dengan perahu di musim hujan dan sesek di musim kemarau- oleh penduduk setempat disebut Ngringin.


Di bawah pohon beringin itu, kupandangi kembali aliran air di Kali Progo. Tiada henti air itu membawa rejeki untuk penduduk di sekitarnya. Pasir, kerikil dan batu material dari rahim Bunda Merapi dibawakan tanpa mengenal lelah.


Masih teringat jelas, kala itu, sepanjang malam bunyi mesin penyedot pasir terdengar dari pastori. Kali Progo benar-benar tidak diperkenan untuk istirahat. Benarlah ujaran Francis Bacon bahwa bumi seisinya bagi manusia ibarat mesin saja. Alam pun serasa bisa diatur oleh manusia. Selaras dengan berkembangnya rasionalisme yang semakin menepikan misteri dari alam berkat banyaknya penjelasan yang muncul dari kepala manusia.


Sejatinya, alam tetap mengandung sang misteri. Tak sepantasnya misteri alam ditepikan. Ini kusadari ketika senja kala sudah bertemu malam. Di bawah pohon beringin itu, suara air Kali Progo menderu, berpadu dengan angin kencang yang berlarian di atas air. Seolah ingin menyampaikan pesan ke telingaku bahwa air itu mampu menenggelamkan perahu yang tadi aku tumpangi.


Dari dalam air mengandung kekeramatan sebagai misteri yang pantas dihormati. Kekeramatan yang mengandaikan alam tidak bisa sepenuhnya dipahami akal manusia. Alam punya kekuatan, itu pasti. Sepasti misteri yang terkandung di dalamnya.


Di tepian Kali Progo, kini kusadari bahwa sesungguhnya tak sepantasnyalah aku menepikan misteri. |seti