dak

atap datar sebuah rumah

kita sering mendengar kata ini: dak, untuk menyebut atap datar yang terbuat dari beton. sedangkan untuk atap miring atau tidak datar kita sebut sebagai atap begitu saja atau kadang-kadang kap.
dak maupun kap adalah istilah asing, yang kita pungut melalui bahasa belanda, sedangkan fenomen penudung rumah sudah kita kenal jauh lebih lama sebelumnya. adapun istilah atap, atau atep, nama sejenis alang-alang, adalah bahan perdana yang mula-mula digunakan oleh orang-orang nusantara untuk menudungi hunian mereka. dengan dianyam dan disusun dengan cara tertentu, alang-alang ini berfungsi menjadi pelindung bagi hunian kita. namanya kemudian diambil alih untuk menjadi nama struktur pelindung atau penudung rumah.
pelindung dari panas dan hujan tropik itu begitu fundamental perannya dalam tradisi menghuni kita di nusantara ini. rumah boleh tanpa dinding, tapi selalu harus beratap. bersama tiang-tiang penyangganya, ia menjadi unsur tertua dalam rumah. tidak heran bila sering kali atap dan tiang dirawat dan dihormati dengan cara dibuat kuat dan diukir elok.
karena bahan setempat yang bisa digunakan untuk menjadi pelindung dari panas dan khususnya hujan adalah atap, daun nipah [nypa fruticans], atau alang-alang, maka bentuknya pun mengikuti sifat bahan tadi: dipasang miring agar air hujan tidak tertahan dan segera terbuang. tidak terbayangkan oleh moyang kita untuk membuat suatu pelindung hunian yang dipasang mendatar. tidak ada kemampuan untuk melawan kekuatan alam. oleh sebab itu begitu bahan beton dikenal untuk membuat struktur atap datar, maka kita mengambil alih bahan serta teknik membuatnya. bahkan namanya pun diambil alih begitu saja dari mana ia berasal, tidak sempat kita carikan nama lokal yang cocok: dak!
sebagai barang baru, dak atau Atap Datar ini belum banyak mengalami elaborasi arsitektural. beda dengan alang-alang, ijuk, sirap dan kemudian genting yang sudah cukup lama dan memiliki ekspresi arsitektural yang khas dari masing-masing bahan.
keindahan teknik pembuatan atap alang-alang bisa kita nikmati di rumah-rumah tradisional nias, mentawai, sumba, alor, dsb. demikian pula keindahan yang lain kita jumpai pada atap tradisional yang berbahankan ijuk, sirap, bambu, atau genting. mereka sudah selesai dengan segi keteknikan bahan-bahan alami itu sehingga mampu melakukan simbolisasi. tidak sekadar membuat sarana pelindung.
sedangkan beton baru dikenal sebagai salah satu bahan bangunan [semula hanya untuk bendungan air dan pelabuhan] di peralihan abad XIX-XX, seiring dengan munculnya bangunan-bangunan modern di kota-kota gupermen di hindia-belanda.

bahan baru lain yang dikenal untuk menudungi bangunan adalah seng. bahan yang sering dipilih sebagai pengganti alang-alang karena sifatnya yang ringan dan bentuknya yang berupa lembaran, mirip seperti lembaran anyaman alang-alang yang sudah dikenal sebelumnya. seng mudah diterima oleh masyarakat kita karena tidak membawa konsekuensi pada perubahan bentuk rumah. beda halnya dengan beton, atau atap datar. demikianlah, inovasi sering datang dengan melanjutkan apa yang sudah ada.

membuat atap, pertama-tama adalah menjadikannya sarana perlindungan. ada pun wujudnya nanti dibuat menyimbolkan maksud tertentu, itu tentu dimaknai belakangan. alasan keteknikan terpenuhi dahulu, baru simbolisasinya datang belakangan. meski pun datang belakangan, tapi tindakan simbolisasi membuat atap tidak sekadar alat pelindung.