cak!



cak...cak...teng kepatihan nggih...

becak itu kendaraan kota.
meski pengendaranya kebanyakan adalah orang desa.
bila sepeda adalah kendaraan personal yang beinduk dari eropa [velocipede, bahasa prancis] maka becak adalah kendaraan angkutan yang induknya di asia timur: cina, india dan jepang [bee-chia, istilah hokian].

becak baru muncul setelah kota-kota di jawa diperhalus aspal jalananya. berarti, ia muncul belakangan setelah sepeda yang juga baru kelihatan setelah kota-kota surabaya dan batavia bisa menikmati mulusnya jalan beraspal di awal abad ke-20.
becak, jelas kendaraan modern!

becak memang lahir dari konteksnya, bukan dari kebutuhan internalnya. ia lahir karena kebutuhan akan sarana angkutan penumpang dan barang, yang leluasa masuk-keluar gang-gang yang tidak bisa dilakukan oleh kereta kuda yang sudah lebih dulu ada.
angkutan barang dengan kereta beroda yang dikayuh jelas meringankan pengemudinya, katimbang ketika masih ditarik oleh beberapa orang hamba.

becak, selain menyamankan pengendaranya, juga menempatkan penumpang di depan, sebagai yang dihormati, yang bisa melihat leluasa pemandangan di depannya. hanya becak di jawa yang menempatkan penumpangnya sedemikian, meski pun itu melawan hukum mekanika. hukum mekanika mengajarkan bahwa menarik lebih ringan katimbang mendorong. tapi becak memang bukan sekadar alat mekanik, ia cocok dengan kultur jawa yang hirarkhis.

di alun-alun,
masih banyak becak yang jadi langganan para bangsawan, yang memilih kendaraan ini katimbang taksi. sebab naik becak membuatnya masih berharga, dengan berjalan tenang ia bisa melihat sekeliling dengan leluasa. 
kendaraan yang muncul di fajar jaman modern ini tidak mengurangi kebangsawanannya.

di hotel-hotel,
semakin banyak becak dipesan untuk membawa berkeliling wisatawan kota-kota. para bangsawan baru, yang dengan dollarnya meminta kita memelihara hirarkhi sosial feodalistik itu. yang meminta kita jangan berubah. yang meminta kita menyebut itu sebagai tradisi agung yang harus dilestarikan.

cuk!