Cafe Door, Pintu bagi Banyak Mimpi



Tunglur. Sebuah desa yang barangkali belum pernah kita dengar. Di desa itu hiduplah sebuah keluarga. Keluarga kecil. Oh bukan, keluarga yang cukup besar. Keluarga itu menyatu dalam komunitas GKJW Tunglur.
GerejaKeluarga yang sederhana. Namun dalam kesederhanaan itulah, mereka saling memiliki. Pun saling membangun.

Hidup dalam kesederhanaan tak menjadi alasan untuk tidak punya mimpi. Justru dalam kesederhanaan itulah mereka saling memupuk dan menumbuhkan impian. Salah satunya adalah mengembangkan ekonomi jemaat. Ini bukan cuman soal nyari duit untuk mbangun ato merenovasi bangunan ini-itu, bukan cuman buat beli ini-itu. Mereka sedang membangun jati diri dan masa depannya.



Di antara sekian banyak upaya, ada usaha berupa warung kopi pemuda yang bernama Cafe Door. Pintu. Ya memang usaha itu adalah pintu. Pintu bagi mimpi-mimpi besar lain. Pintu bagi masa depan dan harapan.  Dua orang pemudi - Puput dan Eka - menjaga tempat nongkrong sederhana namun romantis itu. Siap dan sigap melayani pembeli. Cafe itu tak sekadar menjadi ajang mendulang uang - karena memang tidak melulu profit oriented, tetapi juga menjadi pintu bagi perjumpaan dan obrolan sesama manusia. Makanan dan minuman yang disajikan pun sederhana, bukan kopi dan teh mahal seperti di cafe-cafe yang sedang menjamur di kota-kota itu.

Cafe door adalah juga pintu bagi bangkitnya semangat generasi muda menjadi generasi yang sadar diri, bahwa pada mereka ada masa depan, selama tak berhenti pada satu ruang. Apalagi ruang sempit dan gelap. Karena sejauh usaha kita, selalu saja ada pintu yang terbuka.

_argo
(inspired by Gide's story)