Budhe Juve, antara benci dan rindu



Saya bukan penggemar Juventus. Tim ini mainnya Italia banget. Lambat, cenderung bertahan, statis, dan gol-gol yang dicetak biasa-biasa saja. Bukan selera saya. Ibarat film, Juventus ini film drama yang isinya hanya ngobol-ngobrol saja... Serius. Nggak ada berantem-berantemnya, nggak ada tembak-tembakannya. Bikin ngantuk. Ya, demikianlah kultur yang terbangun di liga Italia Serie A. Hampir semua tim yang berlaga mainnya kayak gitu semua. Dan Juventuslah yang paling kental warna Italianya.

Demikianlah Si Nyonya Tua, La Vecchia Signora. Salah satu versi alasan kenapa tim ini dijuluki Si Nyonya Tua karena sosok nyonya tua adalah penguasa di dalam keluarga besar, disegani, dan angkuh. Tak jarang karena keangkuhannya, banyak orang yang dibuat jengkel, marah, dan sebal. Saya biasa menjawakannya dengan sebutan, Budhe Juve. Budhe, sosok yang kadang menjengkelkan tapi ngangeni. Inilah sosok yang melekat dari Juventus, baik itu di Serie A atau pun di liga Eropa. Tim yang angkuh, disegani, elegan, dan selalu dikangeni.

Ada sebuah kisah hebat yang terjadi pada saat Juventus menjalani hukuman karena skandal pengaturan skor pertandingan. Tahun 2006-2007 mungkin adalah tahun yang paling kelam dalam sejarah Juventus. Karena skandal pengaturan skor, gelar juara dianulir serta hukuman turun kasta ke serie-B harus dijalani. Serie-B adalah liga kasta kedua yang sepi dan tidak bergengsi bagi tim sekelas Juve. Si Nyonya Tua pun terpuruk. Nyonya tua harus menanggalkan jubah bulunya yang mahal dan tas kulit merk tersohor. Ada migrasi besar-besaran pemain bintang yang memilih klub di divisi utama, mengingat Juve di Serie-B tidaklah menjanjikan karier yang bagus bagi mereka. Tapi sebuah keajaiban menyertai Juve. Ada beberapa pemain bintang seperti Trezeguet, Nedved, Buffon, dan Del Pierro yang tetap setia medukung si Nyonya Tua meski tersungkur walaupun tanpa gaji yang layak. Para bintang itu rela bekerja bakti untuk menopang kembali si Nyonya Tua menuju kejayaannya. Dan berhasil! Kesetiaan itu berbuah manis. Juve merajai kasta Serie-B dan kembali ke Serie-A dengan langkah yang anggun, angkuh, dan elegan. Dan di tahun ini si Nyonya Tua telah berhasil mengunci juara Serie-A sebelum liga tuntas. (menjengkelkan bukan?)

Para bintang yang memutuskan bertahan saat tim terdegradasi, sekali lagi saya sebutkan : keajaiban! Mereka menyadari bahwa sepak bola bukan hanya sekedar popularitas, uang, dan kejayaan. Tawaran untuk berpindah ke tim yang lebih “sehat” pun membanjir. Tapi mereka lebih memilih bekerja bakti membangkitkan si Nyonya Tua. Mereka adalah Juventini sejati! Mereka menghayati, sepak bola itu bukan hanya menang bareng, tapi juga kalah bareng.


Meskipun tidak ngefans dengan Juventus, tapi bolehlah saya memberikan apresiasi atas perjuangan dan prestasinya. Hidup bersama itu bukan hanya bersama-sama tertawa dalam kebahagiaan, tetapi juga bersama-sama menangis dalam kepedihan. Selamat, Budhe Juve!! (dpp)


*) ilustrasi diambil dari http://www.pixcove.com/image-copy-sketch-painting-drawing-face-expression-sleep-head-slumber-old-woman/