bhumi



dalam suatu kesempatan, seorang bhante membetulkan cara saya mengucapkan kata bumi.
beliau menyarankan agar kata itu diucapkan sebagai bhumi, dengan letupan di bagian awal: 'bhu'.
prabhu, bhupati, mengkubhumi, bhuminata, kabhumen, bhumija, bhusana, bhuta,  dst. itu adalah kata-kata yang diturunkan dari 'bhu' tadi.

dalam kamus sanskerta indonesia susunan i made surada, lema bhu diterangkan sebagai: tanah, tempat, kediaman, pokok persoalan. tapi juga sebagai: menjadi, menimbulkan, menghidupkan, memperlihatkan, juga meninggalkan...

dalam bahasa sehari-hari kita di indonesia, bumi hanya kita pahami sebagian saja dari kekayaan pengertian yang terkandung di dalamnya: yakni hanya sebagai 'tanah tempat kita berpijak di bawah langit'. tidak ada bekas-bekas pengertian 'yang mendahului kita', 'asal dari segala yang ada', 'yang mengawali' dan sebagainnya yang terlihat dari kata bumi tadi.

seringkali jejak-jejak pembentukan istilah itu tidak bisa dikenali, sehingga konsep atau ide yang bersemayam dalam kata-kata itu pun tidak lagi bisa secara penuh dibagi dalam komunikasi. kata-kata jadi sering tinggal bunyi-bunyian belaka, atau tinggal aksara yang memenuhi bidang tulisan kita saja.

kata bumi tadi jadi miskin karena hanya merujuk pada aspek visual dari bulatan dunia, tanpa isyarat bahwa bhumi adalah ibu kita semua. induk semua makhluk di bulatan bola dunia ini. seandainya kita masih merawat bahasa kita sendiri, yakni simbolisasi audial dan visual yang kita bikin untuk menamai relasi otentik kita dengan lingkungan kita sendiri, maka bhumi tidak akan menderita seperti sekarang ini. kita masih akan ngajeni.

apakah bhumi sedang menderita?
padahal, bukankah kita yang berasal darinya juga akan kembali padanya?

ya ampun, baru sadar aku!
aku akan kembali pada bhumi, ibhuku yang seperti aku sendiri: tua, rapuh dan menderita.

--
anto