berkah di balik musibah


Jurnal menjadi ibu Tantra 31102015


Berkah di balik musibah. Itu adalah kalimat klise untuk menghibur orang yang baru merugi atau menderita sakit. Tadinya kupikir begitu. Sampai aku mengalami sendiri. Halnya sepele. Namun, itu membuktikan bahwa Tuhan memperhatikan hal-hal yang sepele juga.


Dua hari ini aku sakit.
Sekujur tubuh terasa nyeri. Hampir tidak tahan rasanya. Terutama nyeri di bagian dada. Aku hanya bisa berbaring. Tidak bisa mencium jagoan kecilku. Apalagi memondongnya seperti yang biasa kulakukan. Menyusui menjadi kegiatan yang sangat menyakitkan.


Karena ingin cepat sembuh, aku berobat. Hatiku galau. Berharap sakitnya tidak serius. Tantra kubawa supaya bisa kususui jika terbangun. Dokter bilang nyeri di dada itu karena kelenjar susu. Aku over produksi ASI. Padahal, Tantra sudah banyak menyusu. Kalau menyusu bisa sampai satu jam. Tapi, kelenjarnya terus memproduksi ASI.


Itu yang menyebabkan dadaku nyeri dan aku demam, selain karena flu. Berkali-kali adikku mengingatkan supaya aku memompa ASI untuk stock ketika masa cutiku habis. Dia sampai shock melihat ASIku menetes-netes ketika aku berganti pakaian. Aku selalu berdalih tidak punya waktu. Energi dan waktuku habis mengurus Tantra.


Setiap ada waktu luang, aku memilih tidur. Ibuku tidak bisa membantu banyak, karena dokter sudah melarangnya menggendong dan mengangkat yang berat-berat. Setiap malam aku begadang mengurus Tantra.


Paginya, aku masih mengurusnya sampai ketemu malam lagi. Begitu setiap hari sampai akhirnya aku tumbang. Ibuku bilang, bayi ini tidak seperti bayi pada umumnya. Tidurnya tidak sampai delapan jam sehari. Dan dia sering sekali pipis. 


Tuhan memaksaku memompa ASI. Kalau tidak sakit, aku pasti terus menunda-nunda. Aku malas karena memompa ASI butuh waktu lama. Sementara aku berkejar-kejaran dengan siklus harian Tantra. Aku sudah berpikir keras jika aku mulai bekerja nanti, lalu susunya Tantra bagaimana.


Aku sudah berpikir memakai susu formula saja. Aku tidak menghargai pemberian Tuhan, yaitu ASI yang melimpah. Banyak ibu kesulitan menyusui. Aku menyia-nyiakan ASIku dengan berpikir anakku dikasih formula saja hanya karena aku malas repot-repot memompa ASI. Memompa ASI membuat dadaku terasa ringan. Nyerinya berkurang. Dan Tantra punya cadangan makanan untuk besok-besok.


Sakitku itu membuat adik, ibu dan bapakku ikut turun tangan merawat Tantra. Jadi, aku bisa istirahat. Selain itu, Tantra jadi lebih dekat dengan oma, opa dan tantenya. Karena mengurus Tantra 24 jam sehari, aku sampai hapal kebiasaannya. Mana tangisan tidak nyaman/sakit dan mana tangisan manja. Setiap kali tangan dan kakinya dingin, itu pertanda mau pipis, BAB atau lapar.


Setiap kali mengamuk, cuma aku yang bisa menenangkannya. Tantra tidak punya kesempatan mengenal anggota keluarga yang lain selain ibunya. Dan juga sebaliknya.


Sakitku membuatku belajar lepas dari Tantra. Sebulan ini hidupku adalah Tantra. Tidak ada kehidupan lain. tidak ada kegiatan lain. Aku sadar ini tidak sehat. Lepas darinya membuatku merasa lega, bahkan merasa menemukan diriku kembali. Ninuk. 


Sakitku membuatku semakin menghormati ibuku. Menjadi ibu sungguh tidak mudah. Banyak sekali rasa sakit yang harus ditanggung demi anaknya. Tapi, tidak ada keluhan. Rasa sakit itu ditanggung dengan rela demi anaknya.


Jadi, memang ada berkah di balik musibah.~wth~