benik

benik


dalam bahasa jawa, kita mengenal istilah ini.
istilah yang berakhiran 'nik' biasanya berasosiasi dengan ukuran kecil... 'menik-menik' adalah ungkapan sesuatu yang unyu, yang kecil tapi menggemaskan.

benik adalah suatu alat untuk menhubungkan dua lembar kain yang harus disatukan tapi bisa dilepaskan lagi.
karena hanya alat penyatu, ukurannya pun kecil saja. tapi meski pun kecil, perannya besar. critical. ia berperan untuk membuka dan menutup, menyatukan dan melepaskan.
masalah menyatukan tapi juga melepaskan, itu sudah dihayati orang jawa sejak lama.
hidup mereka berhadapan dengan perkara itu sejak lama, ketika mereka harus berjumpa dan berpisah dengan budaya-budaya luar atau asing. sikap ambigu atau mendua itu memang ciri khas kultur jawa sebab dengan itulah mereka survive di jagad raya.

tapi benik dikenal orang jawa belakangan.
sebelumnya, ada cara yang lebih sederhana: ikat.
dengan diikat atau ditali maka dua bagian bisa tertutup dan mudah dibuka kembali.
ini berlaku tidak hanya pada busana namun juga pada hubungan sosial hingga bangunan rumah mereka. semuanya bisa dirangkai tapi bisa dibongkar lagi.

benik itu pada prinsipnya adalah bekerja dengan nyanthol atau dengan mengaitkan, karenanya ia juga sering dinamai kancing. suatu istilah dari cina yang memang berhungan dengan kaitan untuk mengunci.
dan karena kaitan atau cantholannya itu selalu nampak setelah diselundupin ke lubangnya, maka ia dihias dengan berbagai bentuk dan warna. jumlah dan letakknya bisa dimaknai tertentu. bahkan di tangan orang yang sedang kebingungan mengambil keputusan, ia akan menghitung jumlah benik tadi seraya menggumam: jadi- enggak - jadi- enggak...

benik, meski pun punya peran besar, ia tidak boleh dibesar-besarkan. dan tidak usah dibesar-besarkan kalau teknologi benik ini datang dari luar yang kemudian diintegrasikan ke dalam jagad kultural jawa. jawa emang gituwok, memulungi dan mengunyahnya ke dalam badan sendiri.

lha emangnya ada jawa asli?