Bangsa Bebal


Perjalanan menuju Tanah Perjanjian masihlah belum menemui kejelasan. Langkah rombongan bangsa Israel pun semakin hari semakin lelah dan semangatnya pun hampir memudar. Malam itu Musa duduk menepi di dekat sungai yang telah mengering airnya. Tiba-tiba datanglah seorang kepala salah satu suku Israel menemui Musa.

“Musa, lihatlah bangsa ini! Apakah engkau tidak mendengar jeritan mereka? Engkau membawa mereka ke tempat yang tidak jelas! Mereka benar-benar lelah dengan perjalanan ini! Dan tahukah engkau, kemarin ada satu kelompok yang meninggalkan rombongan kita. Mereka ingin kembali ke Mesir, tempat di mana susu dan madu melimpah ruah. Mereka merindukan rumah mereka, tempat di mana mereka lahir dan dibesarkan.” Kepala suku itu mencoba menjelaskan kepada Musa mengenai keadaan bangsa Israel.

“Bodoh benar mereka! Apa yang mereka harapkan dari Mesir? Apa Mesir itu rumah mereka? Tanah mereka? Apa mereka punya surat kepemilikian tanah di Mesir?”

“Tapi setidaknya di Mesir kehidupan mereka terjamin....”

“Terjamin nenek lu!! Siapa yang menjamin? Firaun? Mesir? Apa mereka itu nggak mikir ya? Mereka itu di Mesir sebagai apa? Budak!! Sampah!! Harusnya mereka itu bersyukur bisa lepas dari Mesir dan menjadi bangsa merdeka!!”

“Tapi engkau menjanjikan merdeka. Itu berarti sebuah kehidupan yang damai dan sejahtera. Tapi mana, Musa? Lihatlah, mereka mengeluh setiap hari. Air bersih sangatlah terbatas. Makanan hanyalah manna yang turun di setiap pagi. Di manakah kemerdekaan yang damai sejahtera itu, Musa?”

“Kita sedang berjalan bersama-sama. Perjalanan itu bukanlah semudah membalik telapak tangan. Merdeka itu harus berjuang dan berkorban. Inilah yang harus disadari. Jangan dipikir merdeka itu langsung enak. Langsung damai sejahtera? Bangsa ini sudah terlanjur bermental budak. Bermental miskin. Mereka bangga dengan kemiskinan mereka. Mereka bangga sebagai budak yang bodoh. Meskipun mereka itu mampu, tapi mereka itu pura-pura miskin. Untuk apa? Untuk dikasihani! Mental pemalas! Dan aku berjuang untuk mengangkat derajat mereka sebagai umat Tuhan.”

“Musa, memang engkau ini dipilih Tuhan. Tapi engkau ini masih muda. Lihatlah... ada banyak orang yang lebih tua yang engkau pimpin. Hati-hatilah dengan ucapanmu. Engkau haruslah santun dan menjaga tata krama berbicara.”

“Dulu saya sudah berusaha ngomong dengan santun. Menjelaskan dengan baik-baik kalau tanah yang mereka tempati itu ilegal! Bukan milik mereka! Oleh karenanya saya mengajak untuk pindah. Tuhan akan menunjukkan jalan menuju tempat yang jauh lebih baik. Tapi apa saya didengar? Sama sekali tidak! Mereka begitu kaku, kolot, sulit diatur! Saya menghadapi bangsa yang bebal! Ya mau bagaimana lagi? Cara santun nggak mempan ya terpaksa demi kebaikan mereka saya pun menggunakan cara seperti ini. Memaksa mereka! Kalau tidak dipaksa, mereka tidak akan sadar!”

“Mmm.... lalu apa yang harus kami lakukan, Musa?”

“Lihatlah sungai ini.... Sungai ini menjadi kering bukan karena teriknya matahari. Sungai ini menjadi kering karena dibendung. Aliran air di hulu ditutup dan diarahkan ke daerah pemukiman. Itulah yang membuat kenapa daerah ini menjadi kering.”

“Apa maksudmu, Musa?”

“Israel menjerit dalam penderitaan bukan karena tidak diberkati. Israel menangis karena berkatnya telah dibendung. Ada oknum yang telah menarik upah untuk air setiap gentongnya. Ada bajingan yang telah menjual belikan manna bagi mereka yang tidak memperoleh manna. Banyak kepala suku yang dengan terang-terangan menerima suap dan memperkaya diri mereka sendiri. Inilah yang harus diberantas!”

Wajah kepala suku berubah pucat seketika. “Musa, eh... hari ternyata telah larut. Saya yakin Musa cukup lelah hari ini dan membutuhkan istirahat. Saya mohon diri akan kembali ke tenda. Sampai jumpa esok, hari...”

“Heh, kamu pikir saya tidak tahu apa yang telah kamu lakukan selama ini? Kamu pikir saya ini buta dan bisa dibodohi? Besok pagi saya akan mengumumkan nama-nama kepala suku yang akan saya berhentikan dengan tidak hormat karena telah membendung aliran berkat dari Tuhan. Dan salah satunya adalah namamu! Jadi, selamat malam, selamat beristirahat. Doakanlah perjalanan bangsa ini untuk dapat berjalan di dalam kasih karunia Tuhan.”

Musa pun meninggalkan kepala suku yang tertunduk lesu di hadapan sungai yang telah mengering. Ia hanya bisa menatap sungai yang mengering dengan mata nanar. Angin malam pun berhembus di sela-sela tenda-tenda keluarga Israel yang melepas lelah di malam ini. Esok pagi mereka harus melanjutkan perjalanan menyusur padang gersang menuju tanah impian. (dpp)

*) gambar ilustrasi adalah koleksi dari http://www.chapelgalleries.com/