Bagaimana Cerita Diakhiri


Seberapa penting sebuah cerita diakhiri dengan episode yang indah? Happy ending.
Tak semua orang menyukai cerita - misalnya film atau novel - dengan happy ending. Sebagian lebih suka cerita yang berakhir mengambang, menggantung, menyisakan teka-teki dan keterbukaan bagi penikmat cerita untuk menafsirkannya sendiri. Penerima tuturan cerita berhak mengartikan nilai cerita itu bagi diri sendiri. Justru kondisi itulah yang mebuat pembaca merasa dihargai.

Bagaimanapun, mengakhiri kisah dengan indah adalah pilihan yang sah. Seperti yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang oleh banyak orang disebut Komunitas Yohanin. Mereka adalah para pengikut setia Rasul Yohanes. Mereka ikut berperan dalam penyelesaian naskah final kesaksian versi Yohanes, yang kemudian disebut Injil itu. Konon, Injil Yohanes sudah berakhir pada pasal 20. Namun, Komunitas Yohanin itu merasa perlu menambahkan ending cerita - yang kelak menjadi pasal 21. Demi apa atau demi siapa? Demi para murid Yesus, Orang Nazaret itu. Juga demi makna yang nanti akan dicecap oleh pembaca narasi Injil. Bagi para murid, perlu tersaji kisah yang lebih patut, lebih heroik, lebih romantis. Bagi pembaca, perlu yakin bahwa kisah para murid adalah kisah yang heroik-romantis-dramatis itu.

Ambil contoh kisah Rasul Petrus. Episode paling menonjol dalam akhir kisah Petrus sebagai murid Yesus adalah penyangkalan. Tak hanya sekali, tetapi sebanyak 3 kali. Ditandai dengan kokok ayam. Nah, Komunitas Yohanin merasa perlu membangun narasi agar Petrus, si penyangkal itu, diperbaharui kembali panggilannya sebagai rasul yang "baik". Dipulihkan kembali martabatnya sebagai rasul. Maka lahirlah kesaksian kisah Yesus yang menjumpai Petrus. 3 kali disangkal, 3 kali pula Yesus menanyai, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Disambung dengan perintah, "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Seolah, Komunitas Yohanin ingin mengembalikan martabat Petrus. Bahwa ia, walaupun sempat menyangkal, tetap dijumpai Yesus. Tetap diberi kepercayaan. Jadilah Petrus tampil dramatik di akhir Injil Yohanes.

Demikianlah cara mengakhiri sebuah cerita kadang dapat membuka ruang-ruang pemaknaan bagi pembaca. Namun, seperti apapun akhir kisah, bukankah sebuah narasi yang sudah dipublikasi memang adalah milik sang pembaca, penikmat cerita, pemulung makna?


argo