Badut

Badut itu nama anjingku. Wajahnya lucu, ada dua bentol warna hitam dekat matanya. Maka dari itu ia kuberi nama badut.

Sudah lama ia tiada. Ketika aku duduk di kelas 5 SD. Ulah orang tak bertanggungjawablah penyebabnya. Dia mati karena diracun orang.

Anehnya, ia menunggu kepulanganku dari sekolah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Dia simpan energi dengan bersembunyi, demi pamitan kepadaku. Kata simbok, dipanggil-panggil, dikasih makan tetap tak mau keluar dari persembunyiannya.

Sayangnya dikasih air kelapa muda oleh bapak tak cukup untuk menolongnya. Ia pun meninggalkanku, dalam pelukanku. Mengenangnya, aku pun terharu.

Badut aku makamkan dengan upacara kristiani ala bocah usia 10 tahun. Gayaku seperti pendeta memimpin upacara di makam. "Kowe iku lebu lan bakal bali dadi lebu maneh." Di atas pusara badut, aku tancapkan kayu palang. Bu Lik-ku dan teman sekolahku lalu menaburkan bunga yang sengaja disiapkan menjelang upacara. Kebetulan waktu itu halaman rumah banyak sekali tanaman bunga.

Ketika ingat momen itu, aku jadi geli sendiri. Bagaimana tidak geli, coba? Apakah gara-gara memakamkan si badut, takdir mempertemukanku dengan kependetaan sebagai jalan hidupku?

Yang jelas, sejak saat itu aku tidak lagi makan daging guk-guk. Sekalipun ajaran agamaku tidak melarangku. Itu aku lakukan hanya dalam rangka memelihara ingatanku tentang si badut. Anjingku yang begitu mengharukanku pada hari ia berpulang ke rumah Bapa. |seti