arsitektur dan religi


hampir semua bangunan pramodern dibuat dalam hubungan dengan religi.
dengan 'yang kudus' dan berbagai ritus yang berkaitan dengan itu.
rumah pun, dibuat dengan memberi tempat pada 'yang kudus', atau dibuat dengan mengindahkan aturan-aturan sakral. selain rumah, ada bangunan yang memang digunakan melulu untuk kepentingan ritual dalam hubungannya dengan 'yang kudus'.

mengapa pramodern?
karena setelah modernitas, maka ada ekspansi pandangan ruang yang melabrak batasan-batasan lokalitas. jadi, pembatasan 'pramodern' itu mau melihat bagaimana respons arsitektural terhadap 'yang kudus' sebagaimana dikenal, dipuja, atau dihormati dalam lingkup lokalitas/ruang yang spesifik.

dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa memahami bersama penulis buku ini, bahwa dari mulanya, dari sejak gagasannya, arsitektur adat itu sudah berhubungan dengan religi. entah membentuk pengertian tertentu tentang 'yang kudus', entah sebaliknya dibentuk dan diturunkan dari religi yang memuja 'yang kudus' tadi.
konsep ruang linier -misalnya- sebagaimana dikenal religi yang punya pegertian tentang alfa->omega, penciptaan->akhirat akan berbeda ungkapan arsitekturalnya dengan religi yang konsep ruangnya siklis atau radial.

domenig yang meneliti bangunan-bangunan adat di indonesia mengajak kita untuk melihat bagaimana kesakralan dihadirkan melalui arsitektur. bagaimana arsitektur melalui elemen-elemen seperti tiang, balok, atap, lubang, tangga, telah menghadirkan kontinuum suasana dan hirarkhi kualitas ruang, dari profan hingga sakral.
dari sini kita bisa belajar bahwa lokalitas itu berkenaan erat dengan kesakralan yang dibangun, dihadirkan melalui elemen-elemen arsitektural tadi.
arsitektur bangunan religius itu, pada akhirnya, disadari BUKAN sekadar wadah. ia konstitutif bagi hadirnya 'yang kudus'. 

buku tebal ini menyajikan bangunan-bangunan adat di batak, nias, alor, sumba, toraja, daya...yang mutunya luar biasa itu.

--
anto