Antasena



Wayang yang berarti bayang-bayang itu bisa dimaknai sebagai penggambaran. Yang tergambarkan adalah tokohnya atau lakonnya. Ketika seseorang mencandra tokoh tertentu di masayarakat, ia menyatakan bahwa tokoh itu seperti Bima, atau Arjuna, atau Yudistira, dsb. Kemiripan tokoh masyarakat itu dengan tokoh wayang bisa dari segi fisik atau postur tubuh dan bisa juga dari segi watak atau karakter. Seseorang digambarkan seperti Bima karena postur tubuhnya yang gagah, tinggi besar, dan nampak sangat perkasa. Bisa juga seseorang digambarkan seperti Bima karena wataknya yang keras atau tegas dan jujur.

Kemungkinan lain adalah menggambarkan peristiwa atau kenyataan dengan lakon atau episode yang terdapat di pagelaran wayang. Peristiwa orang bergotong royong atau kerja bakti misalnya lalu dikomentari seperti lakon membuat jembatan dari Maliawan ke Alengka agar prajurit kera bisa menyerang Rahwana untuk merebut dewi Sinta.

Salah satu tokoh wayang ada yang dinamakan Antasena.
Dia anak dari Bima. Seperti Bima si Antasena ini juga selalu berbicara dengan bahasa “ngoko” yang oleh khalayak umum dianggap secara negatif bernilai rendah, kasar, kurang sopan tetapi secara positif menunjukkan sikap egaliter atau sederajad, jujur dan otentik atau tanpa basa-basi. Memang Antasena memiliki sifat jujur dan tanpa basa-basi. Ia tidak takut kepada siapa pun dan apa pun, bukan hanya karena ia sakti, tetapi karena hati dan hidupnya yang bersih, jujur dan otentik itu. Dewa pun kalau jelas melakukan kebijakan atau tindakan salah akan dilawannya.

Sifat lain yang oleh khalayak umum dianggap negatif adalah kecenderungan Antasena bertindak mengabaikan aturan apabila aturan itu menghalangi perwujudan kebenaran dan keadilan. Karena kecenderungannya mengabaikan aturan ini maka ia disebut “kenylung” atau “bambung” yaitu sebutan negatif yang berarti “gila”

Tokoh masyarakat dewasa ini yang layak dicandra seperti Antasena adalah Ahok: “kenylung” atau “bambung” atau “gila” mengabaikan etiket, tetapi bertindak sangat etis, sangat memperhatikan etika. Jujur dan otentik.