"Cukup Aneh"

Dua kata itu cukup mengagetkan. Mengingat diungkap oleh seorang Pramoedya Ananta Toer. "Albert Camus-nya Indonesia", begitu The San Francisco Chronicle menjuluki.

Kata-kata "cukup aneh" ini ditujukan Pramoedya untuk RA Kartini. Tokoh pecinta aksara yang membebaskan para perempuan dan laki-laki negri ini dari kebutaan pengetahuan.

Kartini adalah sosok inspiratif bagi sebuah tulisan kreatif dengan daya imajinatif. Memang, kegilaan gadis Jepara dalam membaca buku sungguh tiada kira. Banyak kata-kata pemikir besar terukir dalam benaknya, mempertajam udhar rasa dan gagasan dalam  surat-suratnya.

Namun demikian, bagi Pramoedya ada yang aneh dalam diri Kartini. "Seingatku, Kartini yang tinggal di Kabupaten Rembang setelah jadi Raden Ayu Bupati Rembang, juga tak pernah menyinggung Jalan Raya Pos ini dalam surat-suratnya. Cukup aneh", demikian tulis Pramoedya ketika bertutur tentang Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

Tentu tandas Pramoedya di atas pantas dikupas. Bukannya tanpa alasan, mengingat Pramoedya adalah penulis biografi putri Jepara dengan judul "Panggil Aku Kartini Saja."

Iya, ya... mengapa Raden Ayu Kartini tidak menyinggung sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan raya dekat rumahnya? Padahal, jalan raya Daendels itu sebenarnya beraspalkan darah dan air mata banyak manusia sejamannya. "Cukup aneh", kata Pramoedya. Maka, cukup sampai di sini saja tulisan ini. |seti