ajining raga saka busana

AJINING RAGA SAKA BUSANA
(SESEORANG DIHORMATI KARENA PAKAIANNYA)

Ungkapan dalam bahasa Jawa "ajining raga saka busana" yang artinya seseorang itu dihormati atau tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakannya. Ungkapan ini sungguh-sungguh menjebak. Orang yang mempercayai ungkapan ini bisa memiliki paham dan keyakinan salah yaitu menilai orang lain berdasarkan pakaian yang dikenakannya.

Memang bagi mereka yang memuja atau setidak menyetujui feodalisme, perbedaan status sosial itu dianggap sedemikian penting. Orang yang statusnya lebih tinggi, ditandai dengan pakaian yang dikenakan, itu lebih terhormat daripada oang yang statusnya lebih rendah. Orang yang kelihatan parlente, memakai dasi dan jas, dianggap lebih terhormat daripada orang yang hanya memakai kaos, apalagi yang tidak memakai pakaian (Jawa "ngliga). Berdasarkan paham dan keyakinan demikian ini yang  mengakibatkan orang yang pekerjaannya "kasar" misalnya menjadi petani, sopir, kuli, dsb dianggap lebih hina daripada orang yang menjadi direktur, anggota DPR, pejabat pemerintah, dsb. Kecenderunga mengejek orang dengan sebutan "desa" atau "udik" juga disebabkan oleh paham dan keyakinan demikian itu.

Kenyataannya, orang yang berpakaian necis bisa terjadi berhati busuk dan perilakunya jahat. Para kaum elite yang menjadi koruptor adalah contoh orang yang dari segi pakaian sungguh nampak terhormat, tetapi perilakunya sungguh sangat hina. Sebaliknya, kaum tani, yang setiap hari bergelut dengan tanah dan kotoran-kotoran, yang pakaiannya sangat sederhana bahkan mungkin tidak berpakaian (Jawa "ngliga") tingkah lakunya justru sangat terpuji. Mereka menjalani hidup dengan jujur, rendah hati, murah hati, dan kebajikan-kebajikan lain.

Sebagaimana pepatah "jangan menilai orang dari penampilan" selayaknya ungkapan "ajining raga saka busana" tidak perlu dipelihara. Ungkapan ini sudah using dan layak dibuang. Kepada saudara-saudara di Papua yang belum menggunakan busana, dan masih mengenakan koteka, kita mesti menghargai mereka sebagai sesama yang persis harkat dan martabatnya dengan diri kita. Bukan pakaian yang membedakan harga diri atau gengsi seseorang, tetapi perbuatan atau tindakan dan ucapan. Orang layak atau tidak dihormati bukan didasarkan pada penampilan, tetapi dari lathi dan pakarti, perkataan dan perbuatan atau tindakan.