"Tuhan, ajarlah kami berdoa..."


Pak Darto kemarin datang ke Pastori. Menyampaikan dua peristiwa kabar bahagia. Mas Dwi anaknya yang bekerja di negri Sakura sudah pulang dengan selamat. Dan, cucunya yang baru lahir seminggu yang lalu di Panti Rapih pun sudah berada di rumah. Ibu sang bayi juga sudah sehat, setelah menjalani operasi caesar.

Raut kebahagiaan terpancar jelas dari Pak Darto. Bersegera beliau berkata: "Rebat cekap Pak Pendhita, kula sabrayat nyuwun gungan kaladosna sembahyangan panuwun sokur..."

"Mbak Pur pun kondur Pak... Bayinipun sehat nggih Pak..."

"Sampun Pak, kepara si Dwi nggih pun mantuk king Jepang. Wau si Thole Dwi meling... 'matur pak pendhita sisan ya Pak, suk Senen sembahyangan panuwun sokur merga berkah keslametan'..."

Sejenak Pak Darto terdiam. Kucoba membaca apa yang dipikirkan dengan kata-kata barusan. Sepertinya ada hal mendalam hendak disampaikan.

"Wah, estu kanugrahan kawilujengan Pak. Ujaripun thole nalika pesawat badhe mendarat teng Kualalumpur, wonten petir ingkang nggegirisi celak pesawat. Mila thole wau meling mekaten Pak. Dados Senen mangke wonten kalih keperluan nggih Pak, nyuwun tulung saestu..."
***
Mendengar tuturan demikian, aku menemukan eksistensi kekuatan tradisi. Ya, tradisi puja kala fajar, puja kala senja, dan puja kalahayu. Tradisi yang aku pakai untuk meneguhkan panggilanku sebagai pendeta.

Mengingat kawanan umat Allah yang dipoercayakan kepadaku dalam doa. Memohonkan segala keberkahan dan keselamatan bagi mereka. Kurang lebihnya inilah cara memaknai diri hidup yang dikonsekrasi, dengan mengandalkan tradisi.

Menghidupi tradisi memang tidak gampang. Apalagi di tengah arus zaman yang terus berkembang. Belum lagi bila suasana hati terkadang gersang. Berdoa menjadi hal yang berat untuk dilakukan. Dalam situasi ini, breviarium yang memandu doa-doaku pun menemukan kittahnya.

Dari sini makin kusadari betapa pentingnya doa para murid yang unik ini: "Tuhan, ajarlah kami berdoa..." |seti